Dua produk olahan Mangrove : Sirup dan Sabun.

Hijaunya Mangrove, menjanjikan keteduhan
Hijaunya hutan Mangrove, menjanjikan keteduhan

Ketika berkunjung ke kawasan Pekalongan Mangrove Park beberapa waktu lalu, sebenarnya ada yang kurang kurasakan, yaitu tidak sempat melihat secara langsung hasil pengolahan buah Bakau.

Ya, memang dari penjaga yang ada di Pusat Informasi Mangrove (PIM) itu kami mendapat informasi bahwa buah mangrove ini dapat diolah baik sebagai makanan, minuman maupun produk non pangan.

Sirup, dodol, kripik dan tepung mangrove adalah beberapa jenis olahan buah mangrove yang dapat dikonsumsi.  Adapun produk non pangan dari buah mangrove antara lain : sabun dan bahan pewarna alami. Continue reading “Dua produk olahan Mangrove : Sirup dan Sabun.”

Mengais kenangan di Taman KB

Taman KB / Taman Menteri Supeno Semarang
Taman KB / Taman Menteri Supeno Semarang

Bagi masyarakat Kota Semarang dan sekitarnya, taman yang satu ini mungkin sudah tak asing lagi.  Ya, Taman Menteri Supeno atau yang lebih populer dengan sebutan Taman KB. Continue reading “Mengais kenangan di Taman KB”

Berubah sungguh tak mudah …

Sarapan itu penting, sebagai ‘bekal’ selama kita beraktifitas seharian. Begitu yang selalu disampaikan oleh nenek dan ibu kami, sehingga sarapan yang cukup -biasanya dengan ‘menu berat’- selalu mengawali pola makan keluarga kami sejak dahulu.

Eh, sebentar… ‘Pola Makan‘ atau ‘Kebiasaan Makan‘ ya? Apa bedanya dua istilah itu?

Menurut hasil browsing, ternyata kedua istilah itu memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah sama-sama merupakan tindakan yang dilakukan setiap hari, terus-menerus, dan dalam waktu yang relatif lama.  Adapun perbedaannya adalah Pola Makan bersifat lebih formal, berlaku secara umum dan dijadikan sebagai pedoman.  Sedangkan Kebiasaan Makan lebih personal sifatnya, terbentuk berdasarkan selera dan ketersediaan makan di setiap rumah tangga. Makan 3 kali sehari, itu salah satu contoh pola makan. Mengkonsumsi buah setelah makan, itu salah satu contoh kebiasaan makan.

Hm, kalau begitu, lebih tepat disebut bahwa kebiasaan makan di keluarga kami adalah mengawali hari dengan sarapan. Nenek dan ibu selalu memastikan kami menghabiskan sarapan yang telah tersedia setiap pagi.  Selain itu, ketepatan waktu makan juga menjadi perhatian besar di keluarga kami, alhasil sejak kecil hingga remaja kami telah terbiasa dengan kebiasaan dan pola makan teratur tersebut. Continue reading “Berubah sungguh tak mudah …”

Pagi di ujung Februari

Bersama mentari pembuka hari ini,

kembali kulantunkan syukurku pada NYA :

atas semua nikmat terkecap dan semua uji penguat hati,

semua bahagia yang mencerahkan serta duka yang menyadarkan,

semua mimpi yang menginspirasi,

juga realita penuh makna

Bersama mentari penanda pagi ini,

kembali kulantunkan doa-doa penuh pengharapan :

semoga semakin tegar menapaki jalan yang digariskan-NYA,

semakin pandai mengukir senyum para tercinta,

semakin bermanfaat bagi sesama,

dan semakin baik dari diri yang sebelumnya

Bersama terbitnya mentari penanda bilangan kali ini,

alhamdulillah Ya Rabb …

Pagi_laran

Mendulang ilmu di ambang senja

Aku memang seorang pemimpi.

Ya, aku sadar banget akan hal itu. Jangan-jangan, bahkan sejak kecil aku sudah suka bermimpi, hehe …

Ketika waktu terus bergulir, kusadari telah banyak mimpiku yang sudah terwujud -alhamdulillah- namun masih saja banyaaak mimpi baru yang muncul … Haha … emang dasarnya tukang mimpi kali yaa .. 🙂

Mempunyai impian juga membuatku lebih bersemangat untuk maju, terus berupaya agar dapat meraih mimpi-mimpi itu.  Tak peduli betapa saat itu tampaknya impianku tak akan terwujud, tak peduli cibiran orang kanan-kiri, aku terus bermimpi, bermimpi dan berusaha berjuang mewujudkan mimpi.

Saat awal memimpikan kesempatan bertamu ke tanah suci, aku sempat gamang.  Kondisi saat itu terasa tak memungkinkan terwujudnya mimpi itu. Ada memang yang seolah mentertawakan mimpiku, tapi alhamdulillah banyak juga yang mendukung terwujudnya mimpiku.  Aku menguatkan tekad, mulai mencanangkan mimpi dan mendisiplinkan diri menabung untuk mewujudkan mimpi itu.  Alhamdulillah, Allah memberi begitu banyak kemudahan hingga akhirnya aku dapat mewujudkan mimpi itu. Bahkan perwujudan mimpi itu kemudian menjadi jalan bagi terwujudnya mimpiku yang lain, ketika dengan menuliskan pengalaman tersebut berhasil terwujudlah mimpiku menerbitkan buku! 🙂 Continue reading “Mendulang ilmu di ambang senja”

Dua penghuni (wajib) tasku saat jalan-jalan …

Ketika membaca cerita Chi tentang alasan / latar-belakang dia menjadikan sepatu sebagai benda yang wajib dibawanya saat jalan-jalan, aku sempat ketawa sendiri.  Hah, ternyata ada ya, yang punya kebiasaan seperti itu? Kebiasaan apa? Aah.. baca sendiri deh di tulisan Chi yang satu itu … hehe …

Lalu ketika akan menjawab pertanyaan Chi yang sekaligus menjadi tema GA pertamanya ini, awalnya aku pikir mudah saja. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi kok susah juga ya?

Benda apa yang wajib kau bawa saat jalan-jalan? begitu pertanyaan Chi itu.  Pertanyaan yang tampaknya mudah tapi ternyata -bagiku- jawabannya tak semudah yang kukira.

Kenapa?

Ya, karena ternyata setelah kuingat-ingat lagi, ada banyaaak benda yang biasanya kubawa saat bepergian ( makanya jarang bawa tas kecil ) hihi …

HP, charger dan powerbank ? Iya … tentu saja ketiganya harus dibawa tuuh … bisa kelabakan kalau gak bawa salah satunya, hehe …  Kamera? Naah, itu juga … Hobby ceprat-cepret membuatku selalu gatal ingin membawa kamera kemana-mana.  Tapi sayang kameraku yang sekarang bukan kamera saku sehingga agak susah dibawa-bawa di tas tenteng ukuran sedangku apalagi masuk saku.  Untunglah ada kamera HP, jadi tetap bisa menyalurkan hobby meski dengan kemampuan yang terbatas 🙂

Mungkin banyak di antara teman-teman yang seperti itu juga ya, karena memang benda-benda yang disebutkan di atas itu sudah umum untuk selalu di bawa-bawa saat bepergian, jadi jawaban dari pertanyaan Chi haruslah bukan dari benda-benda tersebut.

Jadi, benda khusus apa yang wajib kubawa saat bepergian / jalan-jalan, di luar keempat jenis benda di atas ? Continue reading “Dua penghuni (wajib) tasku saat jalan-jalan …”

Logo baru Kota Pekalongan

Logo baru Kota Pekalongan
Logo baru Kota Pekalongan

Hari Jumat, 30 Januari 2015 yang lalu, ada acara Launching Logo Baru Kota Pekalongan di halaman kantor Sekretariat Pemkot Pekalongan Jl. Mataram No 1 Pekalongan.

Acara berlangsung seru dan meriah, diawali dengan sepeda santai yang finish di halaman Setda Kota Pekalongan, pengunjung berbaur antara unsur-unsur masyarakat dan aparat Pemkot Pekalongan, mangayubagyo logo baru Kota Pekaongan yang telah ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kota Pekalongan No. 10 tahun 2014 dan resmi digunakan sejak 1 Januari 2015 ini.

Tak kenal maka tak sayang.  Itu pepatah yang sudah sering kita dengar.

Begitupun dengan logo baru ini, ada pro kontra di masyarakat, mungkin karena logo lama memang sudah sangat familiar -karena telah digunakan sejak tahun 1958- sehingga masih banyak yang  merasa asing dengan logo yang baru ini.

Nah, agar makin mengenal dan pada akhirnya timbul rasa sayang dan rasa memiliki logo baru ini, maka -khususnya kepada masyarakat Kota Pekalongan- mari kita kenali lebih jauh logo baru kota kita ini.

Continue reading “Logo baru Kota Pekalongan”

Ngilo githoke dhewe

Ngiloa githokmu dhewe” .  Kanca, apa nate krungu tembung iku? Utawa malah nate ngucap marang kanca liyane?

Mbok menawa isih akeh kanca sing babar blas durung nate krungu tembung pitutur iku. Ngilo -yaiku nyawang nganggo kaca pangilon- githoke dhewe, iku angel bisane kelakon, butuh kanca / wong liya kang ngewangi supaya kita kelakon bisa ngilo githoke dhewe.

Semono uga ing panguripan iki, ora gampang mbiji awake dhewe utawa metani kesalahane dhewe, biasane butuh wong liya kang nuduhke kesalahane ndhewe.  Mula, aja susah apa maneh nesu yen ana kang nuduhake kesalahane ndhewe, malah kudune dhewe matur nuwun marang kanca / uwong iku.

Ya, iku sing lagi tak alami dina iki. Ana kanca sing gelem nuduhake kesalahanku.  Sepisanan pancen rasane mak peng! kaya ketampek rasane… Rumangsa nelangsa amarga apa sing sak lawase iki tak perjuwangke jebule ora ditampa bener marang liyan -mbok menawa ana sing rumangsa lara ati, aku nyuwun pangapura. Nanging aku banjur matur kesuwun marang kanca iku, amarga aku dadi ngerti menawa isih ana kaluputan sing kudu tak dandani…

Kedadeyan iki dadi pasinaon urip kang wigati kanggoku, dielingke maneh yen manungsa pancen kudu bisa rumangsa, ning aja rumangsa bisa… Alhamdulillah.., Jemuah barokah 🙂

*** Continue reading “Ngilo githoke dhewe”

Ngantri di sabtu pagi

Sudah beberapa lama lutut kananku sering terasa nyeri bila dilipat, terlebih saat harus duduk bersila…hadeeh…. Kalau sudah begitu, posisi duduk harus sering dibolak-balik biar gak gosong..eh..biar gak sakit lututnya… 🙁

Sayangnya, kesempatan untuk periksa tak juga datang karena untuk itu harus meluangkan waktu seharian di RS -yang merupakan kesempatan langka di waktu-waktu yang lalu- sehingga sementara waktu kemarin harus menahan rasa dulu & berupaya meghindari gaya duduk bersila itu…

Belum tertangani unjuk rasa si lutut itu, disusul oleh sang panggul yang juga melu-payu berunjuk-rasa.  Dan yang ini lebih menyiksa, maka mau tak mau akhirnya aku harus segera menggunakan BPJS lagi dan alhamdulillah kemarin sempat izin cari rujukan & periksa ke poli syaraf yang kemudian disarankan untuk melakukan fisioterapi, sehingga sabtu pagi tadi aku harus standby ngantri di RS untuk fisioterapi.

Begitulah, pagi-pagi sudah menyambangi RS terdekat dari rumah, dan mendapatkan nomor….172! Olala…ternyata orang-orang lain sudah ambil nomor sejak subuh! hihi… yo wis lah, gak papa… memang sudah siap nunggu lama dengan berbekal buku kok..hehe..

PhotoGrid_1419995241975
suasana di depan loket pendaftaran

Saat di ruang tunggu itu, aku sempat juga mengamati beberapa pasien / keluarga pasien yang juga sedang sama-sama ngantri periksa, juga terlibat pembicaraan dengan ‘tetangga’ kanan-kiri tempat dudukku. Continue reading “Ngantri di sabtu pagi”

Horeee… Ibuku sukaaa…

Alhamdulillah…. akhirnya masa heboh akhir tahun berlalu juga.., dan setelah 2 minggu blog ini sawangen akhirnya bisa menulis lagi di sini..  🙂

Mengawali tulisan pertama di tahun baru… ini adalah sekelumit percakapan melalui pesan singkat dengan ibuku.

“Mah…, pun diwaos bukune? Halaman 25 ampun kesupen lho…hehe…”

“Wis…, dhisik dhewe malah.. Suwun yoo… Iki wis tekan halaman 146 wong angger karo ngenteni nang RS tak waca bukune”

“Waah, padahal bukune kandel, nggih… mboten kabotan le ngasta teng RS?”

“Ora. Awale weruh kandele buku yo sungkan.. tapi bareng wiwit maca trus asyiik.. lali karo kandele buku..”

Nah, begitulah sebagian ‘percakapan’ dengan ibuku di awal tahun baru tentang sebuah buku yang kuhadiahkan pada beliau dalam rangka Hari Ibu kemarin.

Syukurlah, rupanya ibu suka membacanya, bahkan buku itu menjadi ‘teman menunggu’ bagi ibu yang akhir-akhir ini rutin 2x seminggu menemani kakak saat kontrol / kemo di salah satu RS di Jogja.

Buku apakah itu? Continue reading “Horeee… Ibuku sukaaa…”