Modus lama

Hujan tak lagi sederas sebelumnya, ketika malam itu di tengah-tengah rapat aku melihat layar HP -yang kupasang mode senyapberkedip tanda ada pesan / panggilan masuk.

Sekilas kulihat ada pesan masuk dari adikku, namun karena pembahasan rapat masih seru aku tak bisa langsung meresponnya. Beberapa waktu kemudian ketika -akhirnya- rapat selesai dan kami berkemas untuk pulang ke rumah masing-masing, aku bergegas ke luar ruangan sambil membuka pesan dari adikku.

“Posisi di mana, mbak? Nggak apa-apa, to?” begitu selarik kalimat yang malah membuatku penasaran.

Ada apa memangnya? Aku pun segera menelponnya, mengabarkan aku masih di kantor dan tidak ada masalah apa-apa (kecuali bila capai & ngantuk masuk kategori masalah malam itu, hehe.. ) dan sedang berkemas untuk pulang.

“Alhamdulillah…, yo wis, hati-hati pulangnya, nanti cerita di rumah saja,” begitu respon adikku.

“Eh, tapi ibu nggak apa-apa kan?” tanyaku penasaran, namun ia meyakinkanku ibu -yang saat aku berangkat malam itu sedang sendirian di rumah- baik-baik saja. Kemudian aku pun bergegas menuju rumah sambil masih menyimpan rasa penasaran, kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa adikku perlu menanyakan posisi & kondisiku lewat sms? Continue reading “Modus lama”

Ngangsu Kawruh bersama IIDN Semarang

Ngeblog buatku adalah penyeimbang dalam keseharianku. Setelah sesiang sibuk utak-utik angka-angka, atau merangkai kata demi kata untuk konsep laporan ataupun review kegiatan, atau bertukar kata dalam rapat demi rapat yang -kadangkala- membosankan… maka mengisi malam hari dengan aktivitas meng-update blog, ataupun sekedar blogwalking terasa menenangkan buatku.

Yah, mungkin memang baru sebatas itu arti blog buatku. Belum menjadikannya suatu ‘sumber rezeki’ sebagaimana yang telah banyak dilakukan oleh teman-teman lainnya, tapi tetap saja aktivitas ini penting buatku, dan aku ingin juga ngeblog tak sekedar mengisi waktu luang saja.

Itu sebabnya, ketika beberapa waktu lalu membaca wara-wara di grup FB IIDN Semarang bahwa akan ada semacam workshop blogging bersama Mak Indah Julianti Sibarani dengan tema Blogging with heart  pada Minggu, 23 November 2014 akupun langsung daftar sambil berdoa mudah-mudahan tak ada acara lain yg tiba-tiba menggagalkan keikutsertaanku.

Alhamdulillah… rupanya Tuhan merestui harapanku untuk bertemu teman-teman sekaligus ngangsu kawruh tentang per-blog-an itu.  Tidak ada acara mendadak lainnya, sehingga Jumat sore aku sudah bisa meluncur ke Semarang, naik KA lagi.. 🙂 Continue reading “Ngangsu Kawruh bersama IIDN Semarang”

Perempuan tangguh itu adalah ibu kami!

Ketika dalam perjalanan yang lalu, aku melihat kejadian seorang anak yang tantrum dan membuat heboh satu gerbong kereta, tiba-tiba saja aku teringat cerita ibu bahwa duluuu…saat masih Balita aku pun pernah rewel saat pertama kali diajak beliau naik bus. Dalam pertemuan-pertemuan keluarga kami, cerita tentang hal itu cukup sering ‘diputar-ulang’ , tapi tiba-tiba aku penasaran, separah apa rewelku saat itu?

Dan akupun bertanya-tanya dalam hati, bagaimana perasaan ibu ku saat itu? Seberapa banyak aku telah mempermalukan ibu dengan kerewelanku di masa kecil itu? Akupun kemudian mengirim pesan kepada ibu saat itu juga, menceritakan tentang kejadian anak yang tantrum di kereta api itu dan menanyakan apakah aku juga segitu-nya waktu itu? Dalam pesan jawabannya, beliau menyatakan bahwa saat pertama naik bus itu aku memang menangis tapi tidak sampai teriak-teriak membuat heboh dan mempermalukan beliau… Ah… entah memang begitu kejadiannya dulu, atau itu hanya salah satu cara ibu menenangkanku, tapi aku tetap mengirim pesan mohon maaf atas kelakuanku saat itu. Dan aku bersyukur, mempunyai ibu yang sabar dan tangguh.

Beliau yang lahir dan menjalani masa kecil di masa penjajahan itu telah ditempa cukup keras dalam masa-masa awal kehidupannya.  Terbiasa hidup dalam keterbatasan ekonomi justru membuat beliau semakin kuat & tegar.  Di saat remaja seusianya pasrah dengan nasib menjalani perjodohan dini yang diatur orang-tuanya, beliau nekad menolak dijodohkan saat lulus SMP dan memberanikan diri meninggalkan Salatiga dan merantau ke Jogja,  demi bisa melanjutkan sekolah dengan beasiswa ( namanya ikatan dinas, waktu itu..). Bertekad segera lulus dan bekerja sebagai guru untuk membiayai hidup bersama ibu dan adiknya. Ah, membaca cerita perjalanan hidup yang beliau tuliskan untuk kami, sungguh membuatku makin bangga pada sosok ibuku ini. Continue reading “Perempuan tangguh itu adalah ibu kami!”

Dua cermin di akhir pekan kemarin…

Akhir pekan kemarin, aku harus ke Semarang karena ada acara keluarga.  Berhubung kondisi jalan darat Pekalongan – Semarang masih rawan macet akibat adanya titik-titik perbaikan jalan yang lamaaa… gak selesai-selesai, sehingga waktu tempuh yang biasanya 2 jam bisa muluuuur hingga 3-4 jam, maka akupun memutuskan untuk menggunakan….kereta api!

Halaah… sama-sama perjalanan darat juga ya? hihi… Etapi, naik KA ke Semarang -saat ini- tetap lebih menjanjikan kenyamanan daripada naik bus / travel / bahkan kendaraan pribadi, lho….

Pertama, karena tak harus bermacet-macet ria di jalan raya dalam musim kemarau yang belum juga berakhir ini, kedua karena KA itu kendaraan darat yg ‘menang-an’ (lha iya to…, kan semua kendaraan harus berhenti kalau Si ‘Ular Naga’ ini mau melintas.. hehe…) maka waktu tempuh relatif singkat dibanding Bus, travel, mobil, dll…

Singkat kata, aku memutuskan naik Kaligung Mas -meskipun sekarang ada kereta Pemalang Expres, yg relatif baru- hari Jumat siang, agar sampai Semarang sebelum surup sehingga kalaupun tak ada yang bisa menjemput masih berani naik taksi ke rumah.  Dan, tentu saja aku memilih kursi yang di dekat jendela, agar bisa cuci mata dengan pemandangan sepanjang jalan. Alhamdulillah aku dapat tiket kursi Nomer (A) untuk keberangkatan dan kursi Nomer (E) untuk tiket pulangnya. Continue reading “Dua cermin di akhir pekan kemarin…”

Cabe Jawa, tumbuhan merambat berkhasiat obat.

Apa yang ada di benakmu ketika mendengar / membaca kata ‘Cabe Jawa‘, teman?

Tadinya aku langsung memikirkan kata ‘lombok‘ yang merupakan sebutan dalam bahasa Jawa untuk kata Cabai / Cabe ( Capsicum spp).

Dan ternyata… itu salah…

Penampakan sang Cabe Jawa itu..sama sekali berbeda dari buah Cabai yang selama ini kukenal sebagai salah satu tanaman sayur bahan sambal yang berwarna-warni : ada merah, hijau, putih kehijauan, kuning kemerahan dll itu…

Nah… ini dia penampakan buah dari buah  Cabe Jawa itu :

cabejawa
Cabe Jawa ( piper retroractum )

Continue reading “Cabe Jawa, tumbuhan merambat berkhasiat obat.”

Ketika kerlip asa mereka memudar…

Anak adalah harapan keluarga.  Kehadirannya dalam sebuah keluarga sangatlah dinantikan.  Peristiwa kelahiran dalam suatu keluarga hampir selalu menjadi peristiwa bahagia yang tak hanya dinikmati oleh keluarga inti itu namun juga oleh keluarga besarnya.  Ya, karena buah cinta kasih yang merupakan penerus suatu keluarga itu merupakan ‘harta’ yang tak ternilai harganya.

Oleh karena itu, kesehatan & kesejahteraan anak adalah merupakan hal utama dalam sebuah keluarga.  Bukankah banyak orang-tua yang mengorbankan kebutuhannya atau kebutuhan sekunder keluarga demi pemenuhan kebutuhan kesejahteraan anak yang merupakan salah satu kebutuhan primer keluarga?

Lalu bagaimana bila anak harapan keluarga itu divonis mengidap suatu penyakit dengan harapan hidup yang kecil prosentasenya? Kanker misalnya… Continue reading “Ketika kerlip asa mereka memudar…”

Berkah silaturahmi

Silaturahmi atau silaturahim adalah kata yang sudah sangat kita kenal.  Bersilaturahmi seringkali kita maknai sebagai menyambung tali persahabatan / persaudaraan.  Dan tindakan ini tentu saja banyak manfaatnya.  Coba saja ketik kata kunci ‘manfaat silaturahmi’ di mesin pencari, maka bertebaranlah tulisan-tulisan yang membahas tentang hal itu.

Silaturahmi adalah tindakan manusia yang diridhoi Allah, disukai malaikat dan manusia serta dibenci dan membuat marah iblis dan setan… Itu salah satu hal tentang silaturahmi yang seringkali kita dengar / baca, bukan?

Bagaimana denganmu, teman..  Sudahkan kau rasakan manfaat silaturahmi? Continue reading “Berkah silaturahmi”

Antara Lolong dan Kali Paingan

Hm, ada hubungan apa antara silaturahmi dan sungai di pegunungan?

Hehe… kebetulan, beberapa waktu kemarin aku dan teman-teman berkesempatan menjalin pertemuan / silaturahmi dan keduanya melibatkan acara hepi-hepi di kali gunung alias aliran sungai yang mengalir di pegunungan. Tahu kan ciri khasnya aliran sungai pegunungan? Yap! Biasanya beraliran air nan jernih dan dipenuhi batu-batu besar nan berserak, tak seperti aliran sungai di perkotaan yang aliran airnya buthek dan dipenuhi sampah berserak 🙁

Kembali ke cerita silaturahmi dan sungai ya….

Bersama sahabat di Lolong.

Silaturahmi pertama adalah aku dengan keempat sahabatku, emak-emak nan heboh.  Kami berlima sudah cukup lama menjalin persahabatan, terlebih keempat sahabatku itu.  Sebenarnya aku pendatang baru bagi mereka, karena keempatnya telah memulai persahabatan sejak bertahun lalu ketika sama-sama bertugas di satu Kecamatan (dengan latar belakang profesi berbeda ) dan aku baru bergabung dengan mereka sekitar 5 tahun lalu.

Keakraban kami saat ini memang tak berubah meskipun sekarang masing-masing kami bertugas di instansi yang berbeda, kami masih menyempatkan diri kumpul-kumpul saat salah satu diantara kami berulang tahun.  Nah, acara kemarin itu adalah acara ultah 2 orang diantara kami, mbak Budi dan mbak Aya.  Sebenarnya ultah mereka di bulan Juli & Agustus lalu, karena bersamaan dg puasa dan lebaran -serta kesibukan masing-masing- akhirnya baru awal September lalu kami bisa kumpul bareng merayakannya.

Kami menginap di ‘rumah tetirah’ mbak Budi di Doro – salah satu Kec di Kab Pekalongan yang terkenal dengan buah durian dan salaknya.  Di sana memuaskan diri ngobrol ngalor-ngidul  sambil menikmati kebun & KRPLnya, lalu masak bareng (bakar Gurame-Gurame gendut dari kolam beliau yang sebelumnya ditangkap dengan susah payah & penuh gelak tawa..) dan tentu saja tak ketinggalan jalan-jalan… 🙂 Continue reading “Antara Lolong dan Kali Paingan”

Kisah Uang Nyasar

Lepas maghrib itu, Pak Harun melipat sajadah yang baru saja dipakainya, sambil mengamati Andi -putra bungsunya- yang kali itu terlihat khusu’ berdoa sedangkan biasanya paling cepat ngabur segera setelah mereka selesai berjamaah sholat maghrib.

“Hm, doa apa saja, Dek?” tanyanya kemudian kepada Andi, setelah anak itu menyelesaikan doanya.

“Aku minta pada Allah, agar rejeki Ayah banyaaaak…”

“Aamiin… Untuk apa, Nak?” tanya Bu Harun yang ikutan penasaran dengan doa panjang bungsunya itu.

“Yaa… agar aku segera dapat sepeda baru yang kuinginkan, Bunda..” jawab Andi polos.

Maka tawa Pak Harun, Bu Harun dan Tuti -kakak Andi- pun berderai,  “Aamiin….” sahut mereka kompak.

“Ohya Ayah, siang tadi ada tamu yang mencari Ayah. Kelihatannya penting sekali,” kata Bu Harun.

“Hm… siapa, Bu? Kenalan kita?”

“Tampaknya wajah baru, Yah… Katanya, malam ini dia akan datang kembali.”

“Oh baiklah, kita tunggu saja nanti.”

*** Continue reading “Kisah Uang Nyasar”

Quiche Brokoli a la Mechta

Menurut Wikipedia, Quiche adalah makanan yang berasal dari Perancis, terbuat dari tepung terigu dengan adonan berisi bayam, salmon, ayam, daging asap yang dibalut keju. Quiche yang terkenal adalah dari Lorraine berupa adonan susu, telur, daging asap dan keju Gruyere.

Nah, salah satu resep yang kami dapatkan saat kumpul keluarga lebaran lalu adalah Quiche Brokoli, yang menurut Jeng Wati -yang memberikan resep ini- merupakan alternatif menu sarapan dengan bahan-bahan yang mudah didapat dan membuatnya pun mudah.

Ini dia resep Quiche Brokoli dari Jeng Wati : Continue reading “Quiche Brokoli a la Mechta”