Pengalaman Pertamaku Menikmati Dieng Culture Festival

Cinderamata bagi tamu DCF 9 Th 2018

Lalang Ungu.  Hai…apa kabar, teman? Setelah vakum nulis berhari-hari, kali ini aku akan bercerita tentang pengalaman pertamaku menikmati Dieng Culture Festival. Oya, sudah tahu kan ya, apa itu Dieng Culture Festival? Untuk yang belum tahu, ayo mari merapat ke sini, kuberitahu… ☺

Apa itu Dieng Culture Festival?

Dieng Culture Festival (DCF) atau Festival Budaya Dieng adalah sebuah upaya pengembangan pariwisata di kawasan dataran tinggi Dieng yang diselenggarakan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa Desa Dieng Kulon bekerjasama dengan Pemerintah Kab Banjarnegara dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Tahun 2018 ini adalah penyelenggaraan ke-9 DCF yang bertaglinedari masyarakat untuk masyarakat” ini.

Diseleggarakan oleh kelompok masyarakat? Nggak salah nulis nih?

Iya betuuul…sama sekali nggak salah nulis ataupun baca kok. Memang acara super keren ini diprakarsai dan diselenggarakan oleh kelonpok masyarakat, bukan EO yang komersial, namun hasil akhirnya nggak kalah keren dengan EO-EO profesional itu lho!! Itu pulalah yang makin membuatku semangat untuk nonton acara ini.

DCF ke-9 tahun ini berlangsung dari tanggal 3-5 Agustus 2018. Sejak beberapa minggu sebelumnya aku sudah mencari-cari informasi tentang acara ini. Mencari teman yang bisa berangkat bersama juga, dan ketika gagal berangkat dengan teman-teman yang sudah kukenal, di hari-hari terakir akupun mantab mendaftar Open Trip DCF dari Nonametravel -sebuah agen travel yang kebetulan direkomendasikan seorang teman- dan mengajukan cuti. Alhamdulillah masih dapat seat di Noname dan pengajuan cuti diterima! Maka, tanggal 3 Agustus 2018 jam 5.30 akupun jadi meluncur ke Dieng bersama 13 peserta trip DCF lain dari Jakarta, Tangerang dan Bogor… Keseruan pun dimulai..eng..ing..eng… 😃 Continue reading “Pengalaman Pertamaku Menikmati Dieng Culture Festival”

Kangen Jajanan Tradisional? Yuuk, ke Minggon Jatinan Batang

Lalang Ungu. Hai teman, adakah yang sedang kangen jajanan tradisional? Yuuk, ke Minggon Jatinan Batang saja… Eh, sudah tahu kan apa itu Minggon Jatinan?

Dari kedua kata yang membentuk nama ini, kita bisa mengetahui apa sebenarnya maksudnya. Minggon berasal dari kata Minggu yang merupakan waktu pelaksanaannya dan Jatinan menandakan lokasinya, yaitu di hutan Jati. Ya, Minggon Jatinan adalah semacam pasar jajan yang diselenggarakan setiap hari Minggu, berlokasi di Hutan Kota Rajawali Batang.

Lokasi Minggon Jatinan batang
Hutan kota Rajawali Batang – lokasi Minggon Jatinan (Foto : koleksi pribadi)

Minggon Jatinan ini pertama kali diresmikan kegiatannya pada tanggal 22 April 2018 yang lalu, oleh Bapak Bupati Batang, Wihaji. Sebagai salah satu program untuk mendukung Visit to Batang 2022, diselenggarakannya kegiatan rutin mingguan ini adalah sebagai upaya melestarikan kuliner tradisional, sekaligus sebagai upaya pembinaan UMKM Kab. Batang. Continue reading “Kangen Jajanan Tradisional? Yuuk, ke Minggon Jatinan Batang”

Barteh, Sang Primadona saat Ramadhan di Pekalongan

Lalang Ungu. Barteh, Sang Primadona saat Ramadhan di Pekalongan. Eh, adakah yang belum tahu seperti apakah penampilan Barteh itu? Ni dia penampakannya..

buah barteh

Lho.. itu kan Timun Suri?

Hehe..rupanya memang buah yang termasuk keluarga labu-labuan (cucurbitae) ini mempunyai beberapa nama alias. Di daerah lain mungkin banyak yang mengenalnya sebagai Mentimun suri, Timun suri atau Timun betik.

Akupun dulu lebih akrab mengenalnya dengan nama Timun suri. Mengenal nama Barteh ini saat aku mulai menjadi penduduk Kota Pekalongan. Waktu itu seorang teman mengajakku mencari buah Barteh untuk bahan pembuatan minuman segar dalam salah satu pertemuan yang akan kami adakan. Aku mengiyakan ajakannya sambil bertanya-tanya dalam hati..buah apa pula itu?

Sesampainya kami di Pasar Sentiling, temanku dengan langkah pasti menuju ke dalam bagian penjual buah-buahan, milang-miling sejenak lalu mantap menuju ke ujung..tempat seorang ibu sepuh menggelar dagangan di depannya…yaitu Timun suri! Nah baru lah aku ngeh kalau Barteh adalah sebutan bagi Timun suri oleh warga Pekalongan dan sekitarnya.. ☺ Continue reading “Barteh, Sang Primadona saat Ramadhan di Pekalongan”

Java Balloon Festival Pekalongan, Solusi Lestarikan Tradisi

JBFP solusi lestarikan tradisi

Hai Sahabat Lalang Ungu, apa kabar? Semoga semua sehat dan bahagia selalu di hari ke-8 Syawal 1439 H ini ya.. Oya, mumpung masih hangat nih beritanya..kali ini aku akan menulis tentang Java Balloon Festival Pekalongan 2018 yang diharapkan sebagai solusi untuk melestarikan sebuah tradisi.

Apa itu Java Balloon Festival Pekalongan 2018, dan tradisi apa yang ingin dilestarikan?

Pelepasan Balon udara Syawalan di Pekalongan

Nah, pertama akan kuceritakan terlebih dahulu tentang beberapa tradisi yang dilaksanakan masyarakat Kota Pekalongan dalam menyambut / memeriahkan Syawalan. Pemotongan lopis raksasa dan pembuatan serta pelepasan balon udara merupakan dua kegiatan yang erat kaitannya dengan perayaan Syawalan di Kota Pekalongan.

Pada hari ke-7 di Bulan Syawal yang merupakan puncak acara Syawalan di Kota Pekalongan, sejak dini hari sudah terdengar gelegar petasan-petasan besar dan di langit akan terlihat banyak noktah-noktah beterbangan yang satu persatu meledak di udara dengan bunyi keras. Ya, noktah-noktah itu sebenarnya adalah balon udara besar yang diterbangkan disertai petasan besar. Terlalu tinggi untuk dinikmati keindahannya namun suara gelegarnya saat meledak di udara tetap terdengar. Bersahut-sahutan seolah dalam suasana perang saja.

Ramai dan meriah memang, namun sekaligus membuat was-was. Bagaimana tidak? Balon besar itu diterbangkan lepas begitu saja dengan tambahan mercon/petasan besar-besar, bagaimana bila meledak sebelum benar-benar tinggi / menjatuhi rumah / menyangkut di tiang listrik? Ini bukan khayalan atau ketakutan tak beralasan, sudah ada peristiwa-peristiwa kecelakaan seperti itu yang benar-benar terjadi dan diberitakan di banyak media, namun sebagian masyarakat tetap nekad melakukan hal itu dengan mengatasnamakan tradisi. 🙁

Kekhawatiran lain adalah apabila balon besar itu naik terlalu tinggi sehingga mengganggu lalu-lintas penerbangan. Sangat berbahaya bila balon berbahan plastik / kertas itu menutup pandangan pilot atau bahkan masuk ke bagian pesawat, bukan? Untuk itu, pemerintah melalui regulasi yang ada  (a.l Peraturan Menteri Perhubungan No 40 Th 2018) telah mengatur mengenai penerbangan balon udara raksasa yang ternyata tidak hanya terjadi di daerah Pekalongan saja, namun juga di beberapa daerah lainnya misalnya Wonosobo dan Ponorogo.

Nah, di sinilah polemik itu terjadi. Di satu sisi ada upaya untuk tetap mempertahankan tradisi masyarakat namun di sisi lain ada upaya untuk menjaga keamanan jiwa maupun lalu lintas penerbangan. Apakah masyarakat harus begitu saja dilarang membuat dan menerbangkan balon udara, tanpa ada solusi lain yang sama-sama menguntungkan?

Java Balloon Festival Pekalongan

Java Balloon Festival Pekalongan 2018 (JBFP2018) merupakan kegiatan baru yang dirintis oleh Pemerintah Kota Pekalongan bekerjasama dengan AirNav Indonesia, yang diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk tetap mempertahankan tradisi penerbangan balon udara namun dengan tidak membahayakan jiwa maupun melanggar regulasi yang ada.

Kegiatan JBFP2018 ini berbentuk lomba pembuatan balon udara dengan ukuran sesuai regulasi yaitu lebar maksimal 4m dan tinggi maksimal 7m. Motif warna-warni sesuai kreatifitas peserta. Pengasapan dilakukan secara manual. Tidak diperkenankan menggunakan atau menyertakan bahan-bahan berbahaya seperti gas ataupun mercon / petasan. Dan yang utama adalah balon harus DITAMBATKAN. Minimal menggunakan 3 tali tambatan sehingga balon mengudara maksimal 150m di atas permukaan tanah.

Sekitar sebulan sebelum pelaksanaan lomba, sosialisasi sudah dilaksanakan melalui penyebaran pamflet maupun flyer di media sosial. Ramai masyarakat membicarakannya. Biasa.., ada pro dan kontra. Apa asyiknya melihat balon udara tertambat? Mana seru balon udara tanpa suara petasan menggelegar? Begitu antara lain suara-suara masyarakat. Namun sebagian besar masyarakat juga menanti-nantikan acara baru ini.

Pada hari pelaksanaan -yaitu tanggal 21-22 Juni 2018 lalu– terjawablah sebagian besar pertanyaan itu.

Sejak dini hari masyarakat telah berduyun-duyun mendatangi Lapangan Kuripan Pekalongan Selatan yang menjadi lokasi acara. Terdapat 31 peserta lomba yang tampil dalam 2 hari tersebut. Aku berkesempatan menyaksikan acara pada hari ke-2. Dan ternyata MEMANG ASYIK!!

JBFP2018 di Pekalongan
Antusias warga menyaksikan JBFP2018 di Lapangan Kuripan Pekalongan

Menyaksikan balon-balon besar bermotif aneka rupa dan warna-warni di satu lokasi dan dalam jarak pandang kita, sungguh memanjakan mata! 😍

JBFP2018 Kuripan Pekalongan
Balon-balon raksasa berlatarkan langit pagi

Pengunjung juga bisa mengamati dengan jelas aneka motif hasil kreatifitas peserta. Sebagian besar bermotifkan batik, sebagai ciri khas Pekalongan, namun masing-masing unik sehingga benar-benar meriah warna-warni dan motifnya.

Balon batik, ciri khas Pekalongan nih…

Dan kami jadi mengetahui tahapan-tahapan penerbangan balon udara, yang dimulai dengan pengasapan secara manual menggunakan pembakaran di ‘mulut’ bawah balon raksasa itu. Dibutuhkan pula kerjasama yang baik dalam suatu tim ‘penerbangan’ itu : ada yang menjaga pembakaran sehingga pengasapan sempurna, ada pula yang menjaga tepian balon agar mengembang sempurna dan siap ‘mumbul‘ alias mengangkasa.

Perlu kreativitas dan kerjasama tim yang baik

Aku sempat bertanya pada salah satu tim, yaitu Tim Sedulur dari daerah Curug Tirto, pembuatan balon mereka memakan waktu sekitar 2 hari dengan bahan 10 kodi kertas layangan dan biaya sekitar Rp. 200.000,- Wow..melihat hasil balonnya tentu aku mengacungkan dua jempol pada pemuda-pemuda kreatif ini! Oya pengasapan dilakukan sekitar 15-20 menit agar balon dapat naik dan berada di atas sekitar 15 menit pula untuk kemudian turun dan harus dilakukan pengasapan ulang. Demikian selama waktu penambatan tersebut.

Balon JBFP2018
Ini balon hasil karya Tim Sedulur dari Tirto

Acara dimulai sejak jam 5.30 pagi dan pemandangan aneka warna balon berlatar belakang  langit kemerahan benar-benar sangat cantik lho! Aku sama sekali tak menyesal harus ke luar rumah pagi-pagi hehe… Mungkin demikian pula perasaan warga yang antusias menikmati JBFP2018 ini.

JBFP2018 Kuripan Pekalongan
Balon-balon raksasa berlatarkan langit pagi Pekalongan

Pada tanggal 22 Juni malam, diumumkan juara lomba ini yaitu balon dari Tim Sak Onone dan Tim Bahdi Hore, yang mendapat hadiah 10 juta rupiah. Selain itu ada doorprize untuk peserta yaitu 2 paket umroh, 1 sepeda motor dan 1 kulkas. Wow!! Benar-benar keren nih AirNav Indonesia!

Penutupan JBFP2018
Foto bersama Walikota Pekalongan, Dirut AirNav Indonesia dan Juara JBFP2018

Nah, itu ceritaku tentang JBFP2018 yang diharapkan bisa menjadi solusi pelestarian tradisi penerbangan balon udara di Kota Pekalongan, sekaligus menjadi agenda wisata baru di Kota Pekalongan pada perayaan Syawalan. Memang belum bisa hilang sepenuhnya penerbangan balon ilegal itu. Saat aku menulis ini pun masih terdengar beberapa kali dentum mercon dari balon di langit Pekalongan. Semua butuh proses dan sosialisasi yang terus menerus. Semoga tahun depan akan lebih baik. Nguri-uri tradisi tanpa melanggar regulasi, kenapa tidak? 😀

Oya, acara serupa juga dilakukan di Wonosobo dan Ponorogo. Jika penasaran dengan keseruan acara ini, yuuk.., kami tunggu kedatangan teman-teman di acara JBFP pada Syawalan tahun depan yaa..

Suatu sore di Umbul Ponggok

Lalang Ungu.  Hai teman…apa kabar? Semoga tetap sehat dan bahagia di minggu ke-2 Bulan Maret ini yaa… Meskipun hujan masih rajin berkunjung dan langit lebih sering mendung, mari kita nikmati saja dengan senyum …

Namun kadangkala suara rintik hujan seolah menjadi backsound yang syahdu saat kutarikan jari-jemariku merangkai kata. Oya, sore berhujan seperti ini juga mengingatkanku pada sebuah sore yang basah beberapa waktu lalu di sekitar Klaten, yang tak mampu mencegah kami untuk mampir ke Umbul Ponggok.

Sudah tahu Umbul Ponggok, bukan?

Umbul Ponggok Klaten

Continue reading “Suatu sore di Umbul Ponggok”

Berkunjung ke DEWI SAMBI (3) : Menikmati Hijaunya Alam Sutra

Lalang Ungu.  Hai, teman-teman… Jumpa lagi di awal bulan baru ya.. Alhamdulillah kita memasuki bulan ketiga di 2018, insya Allah tetap sehat dan bahagia yaa.. Aamiin…

Nah, kali ini aku mau melanjutkan cerita tentang jalan-jalan kami ke Desa Wisata Samiran Boyolali beberapa waktu lalu bersama rekan-rekan Blogger Deswita dan FK Deswita Jawa Tengah. Setelah sebelumnya merasakan nikmatnya ‘muncak tipis-tipis’ ke Gancik Hill Top dan serunya icip-icip jajanan khas di Pasar Tiban Duit Batok, maka jalan-jalan penutupannya adalah ke destinasi wisata yang bernama Alam Sutra.

Hari telah mulai beranjak siang ketika kami meninggalkan Joglo Pengilon -sekretariat Dewi Sambi di Desa Samiran- menuju lokasi Alam Sutra dengan menggunakan (lagi) ‘pajero’ alias mobil bak terbuka (panas njobo njero). Sebagian peserta telah siap sedia membawa payung (terutama mbak-mbak & buibu-nya..) atau minimal menggunakan topi untuk mengantisipasi panas mentari siang hari. Dan aku memilih menggunakan topi saja agar tidak ribet namun tetap terlindung dari panas..hehe..

Selamat Datang di Alam Sutra Samiran Boyolali

Sesampainya di Dukuh Pojok yang menjadi lokasi Alam Sutra, kami pun kembali dihadapkan pada pilihan antara jalan kaki atau naik ojek. Oya, kalau ngojek di Gancik Rp 10.000/org sekali jalan, maka di sini hanya separuhnya saja. Hm, berarti medannya nggak terlalu ekstrim seperti di Gancik kali, ya? begitu pemikiran kami waktu itu, sehingga kemudian kami pun memutuskan untuk berjalan kaki menuju gardu pandang.

Oya, sama seperti di bukit Gancik, obyek wisata Alam Sutra Boyolali ini juga menawarkan pengalaman soft treking dan pemandangan alam dari gardu-gardu pandang yang sekalian berfungsi sebagai spot pepotoan nan kekinian.. Setelah menetapkan pilihan kami pun mulai mengayunkan langkah menyusuri jalan setapak menuju lokasi gardu pandang Alam Sutra.

Pemandangan di Alam Sutra Samiran Boyolali

Dan ternyata, pilihan kami untuk berjalan kaki tidaklah salah. Sinar matahari -sekitar jam 11 waktu itu- di kawasan Dukuh Pojok Boyolali tidak terlalu menyiksa. Mungkin karena cukup banyak angin nan sejuk di daerah ini sehingga panas mentari tak begitu terasa dan kami pun tetap nyaman melangkah menyusuri trek yang tidak terlalu menanjak.

Pemandangan hamparan kebun sayur nan hijau segar berpadu dengan suasana langit yang cerah di Alam Sutra Boyolali

Dengan berjalan kaki, kami pun semakin leluasa menikmati pemandangan di kanan-kiri jalan setapak yang merupakan lahan pertanian penduduk. Hijaunya hamparan tanaman Wortel, Sawi, daun Adas dan Selada berkolaborasi dengan birunya langit berhiaskan awan seputih kapas sungguh merupakan vitamin mata yang menyehatkan jiwa! 😃

Berinteraksi dengan petani di Alam Sutra Boyolali

Oya, kita dapat pula berinteraksi dengan para petani yang sedang beraktivitas di kebunnya. Ada yang sedang mengolah tanah, menyiangi tanaman ada pula yang sedang panen. Eh, ada pula teman yang nempil membeli selada langsung dari petani di sana lho.. Yang ngobrol dengan petani untuk mengetahui keseharian mereka ada, dan tentunya ada pula yang tak melewatkan kesempatan untuk pepotoan demi konten blog / IG! *nunjukdirisendiri 😆 Semua itu boleh kok.. yang tidak boleh adalah merusak tanaman petani, baik itu sengaja maupun tidak sengaja.. catat ini ya..hehe..

Sekitar 20 menit kemudian kami pun sampai di lokasi gardu pandang Alam Sutera yang ditandai adanya loket pengunjung. Oya HTM di sini murah meriah kok, cukup Rp 5.000 saja per orangnya. Terdapat beberapa gardu pandang yang terbuat dari bambu. Ya, memang sekilas terlihat sederhana dan rapuh, namun jangan takut…, tentunya pengelola sudah memperhitungkan kekuatannya demi keselamatan pengunjung.. hehe

Gardu-gardu pandang di Alam Sutra Samiran Boyolali

Jika dibandingkan dengan kondisi gardu di Gancik Hill Top, memang penampilan gardu pandang di Alam Sutera terkesan lebih sederhana.  Namun, jangan khawatir..pemandangan yang dapat kita nikmati dari atas sana sama indahnya kok 😃

Seseruan dengan Blogger Deswita di Alam Sutra Samiran Boyolali (Foto by Gus Wahid)

 

Pose-pose manis juga laah…
(Foto by : Gus Wahid)

Setelah naik ke gardu, menikmati pemandangan sekitar yang menghijau sambil dibelai angin sepoi-sepoi nan sejuk, dan tak lupa berfoto-ria baik sendiri-sendiri atau bersama (ups..kalimat ini seperti iklan apa ya?? 🤔) maka kami pun mulai berkemas meninggalkan lokasi, turun kembali ke tempat parkir. Sekali lagi perjalanan pulang disejukkan dengan pemandangan hijau segar kebun sayur yang kami lewati…

Mengenal jenis-jenis sayuran di Alam Sutra Samiran Boyolali, a.l : Selada, Wortel, Sawi, Adas.

Hm, bagiku yang paling berkesan dari perjalanan ke Alam Sutera ini adalah nuansa hijau segar dari hamparan kebun sayur + pengalaman mengamati aktivitas petaninya. Mungkin pengelola bisa menambahkan sesi berinteraksi dengan petani dan mengenal jenis-jenis sayuran di kebun sebagai salah satu daya jual dari obyek wisata ini, selain tentunya pemandangan alam dan spot pepotoan yang instagramable sebagaimana obyek-obyek wisata kekinian. Pengalaman berkunjung ke kebun sayur bila dikemas dengan bagus dapat menjadi bagian yang menarik dari sebuah paket eduwisata, bukan?

Nah, itulah cerita jalan-jalan kami ke Alam Sutera di Dukuh Pojok Desa Samiran Boyolali, sekaligus penutup rangkaian tulisan catatan perjalanan bersama FK Deswita di Desa Wisata Samiran Boyolali ini. Oya, teman-teman juga dapat membaca tulisan teman-teman Blogger Deswita lainnya tentang kunjungan ke Alam Sutra ini, antara lain tulisan dari mas Wahid dan Mia.

Selamat membaca, teman-teman…

Berkunjung ke DEWI SAMBI (2) : Pasar Tiban Duit Batok

Lalang Ungu. Hai..haii… Apa kabar, teman? Tetap sehat dan bahagia, bukan?Tak terasa sudah pertengahan minggu, sebentar lagi weekend..horeee… 😄

Oya, kali ini aku akan meneruskan cerita tentang jalan-jalan kami beberapa waktu lalu ke Dewi Sambi alias Desa Wisata Samiran Boyolali. Jam tubuhku mengisyaratkan waktu sarapan telah lewat ketika kami pulang dari Gancik Hills Top pagi itu, perut keroncongan adalah salah satu tandanya, hehe..

Syukurlah, ternyata mobil ‘pajero’ yang kami tumpangi kembali menuju Sekretariat Dewi Sambi melaju dengan mantab menuruni jalan berliku itu dan tak lama kemudian berhenti di salah satu pertigaan di Desa Samiran. Lho, kenapa kami tidak berhenti di Sekretariat? Dan, ada keramaian apa di depan sana??

Keramaian di Desa Samiran di akhir pekan itu…

Continue reading “Berkunjung ke DEWI SAMBI (2) : Pasar Tiban Duit Batok”

Berkunjung ke DEWI SAMBI (1) : Gancik Hills Top

Lalang Ungu. Sore akan segera beranjak menuju Maghrib namun kami masih menyusuri jalan berkabut di kawasan Kec Selo Boyolali, pada hari Jumat 9 Pebruari 2018 kemarin.

Ya, saya bersama 6 orang teman blogger sore itu sedang menuju Desa Samiran untuk memenuhi undangan dari Forum Komunikasi Desa Wisata (FK Deswita) Jawa Tengah yang akan mengadakan pertemuan ke-14 di desa tersebut. Kami ber-6 berangkat dari Semarang sekitar jam 3 sore, karena sudah diwanti-wanti rekan-rekan FK untuk tiba di sana sebelum Maghrib agar tidak terjebak kabut di perjalanan.

Benar saja, di sore nan gerimis itu, kabut sudah mulai turun di kawasan Selo meskipun jam tangan belum menunjukkan pukul 5 sore. Pemandangan pepohonan hijau di  kiri-kanan jalan tak  dapat kami nikmati sepenuhnya karena terselimuti kabut. Setelah sempat bertanya arah pada penduduk sekitar akhirnya kami sampai di Sekretariat Desa Wisata Samiran Boyolali (Dewi Sambi) menjelang pukul 6 sore itu. Alhamdulillah… Continue reading “Berkunjung ke DEWI SAMBI (1) : Gancik Hills Top”

Menuntaskan Rasa Penasaran di Pasar Karetan

Lalang Ungu. Hai teman… Januari sudah sampai di pertengahan niih.. Semoga teman2 tetap sehat dan bahagia yaa.. 🙂

Hm…hari minggu, hari pasaran. Ke Pasar Karetan asyik niih… Oya, teman-teman sudah tahu / mendengar tentang Pasar Karetan? Eh jangan salah yaaa… Ini bukan nama pasar yang menjual segala jenis karet-karetan lhooo.. Haha…

Ok deh, biar nggak kelamaan bingungnya, ku kasih tahu saja niih… Pasar Karetan adalah satu dari tujuh Destinasi Digital yang sudah ada di Indonesia, merupakan bentuk kegiatan digital sociopreneurship yang menggabungkan community online & offline juga sebagai pertemuan netizen (GenPI) dan masyarakat selaku pelaku ekonomi.

Lha…apa pula itu Destinasi Digital?

Menurut Menteri Pariwisata Bp Arief Yahya, yang dimaksud dengan Destinasi digital (digital destination) adalah destinasi wisata yang instragamable atau bagus bila diunggah ke media sosial. Target dari destinasi digital ini adalah kaum milenial ( 19-40 th) yaitu untuk memenuhi self esteem / kebutuhan untuk diakui.

Pasar Karetan di Radja Pendapa Camp

Continue reading “Menuntaskan Rasa Penasaran di Pasar Karetan”

Famtrip Banjarnegara (3) : Menikmati Keindahan Seni di Gumelem dan Pagak

Lalang Ungu. Suara gamelan Jawa yang cukup rampak menyambut kedatangan rombongan kami di Desa Gumelem Wetan Kec Susukan Kab Banjarnegara siang itu. Oya, setelah kunjungan kami ke Sentra Keramik Klampok, maka Desa Gumelem adalah tujuan kunjungan Famtrip selanjutnya.

Baca juga : Famtrip Banjarnegara (2)

Tari-tarian menyambut di Balai Desa Gumelem

Ternyata saat kedatangan kami, di halaman Balai Desa Gumelem yang terlihat semarak siang itu sedang dipentaskan sebuah tarian Kuda Lumping oleh para remaja putera, setelah itu juga tari-tarian oleh gadis-gadis kecil di atas panggung. Meriah sekali 😀 Rupanya sedang ada acara peringatan ulang tahun Desa Gumelem, yang juga dihadiri oleh perwakilan dari Kasunanan Surakarta. Setelah mendengarkan sambutan dari Kades, kami pun langsung menuju pinggir arena tempat ibu-ibu memajang aneka macam kain batik.

Lho…ada batik di Banjarnegara?? Continue reading “Famtrip Banjarnegara (3) : Menikmati Keindahan Seni di Gumelem dan Pagak”