Hai Sahabat Lalang Ungu, apa kabar? Semoga senantiasa sehat dan bahagia ya.. Sahabat, tulisan terakhir tentang Jalan Bareng Sobat Putih-abu Edisi Gunungkidul kali ini adalah tempat-tempat yang kami singgahi di Gunungkidul sebelum pulang kembali ke Semarang.
Meskipun masih ingin berlama-lama di Pantai Ngobaran, namun kami harus mengakhiri kunjungan kami di sana siang itu karena siang akan segera beranjak sore, sementara masih ada 2 tempat lagi yang ingin kami kunjungi.
Oleh karena itu, segera setelah selesai masalah dokumentasi, kami ber-11 segera masuk ke mobil kembali dan mas sopir pun tancap gas menuju lokasi berikutnya.
Gesing Wonderland
Lokawisata Gunungkidul yang kami kunjungi berikutnya adalah Gesing Wonderland yaitu sebuah di kawasan Pantai Gesing, Dusun Bolang, Desa Girikarto, Kapanewon Panggang Kab. Gunungkidul Yogyakarta.
Hai Sahabat Lalang Ungu, apa kabar? Semoga senantiasa sehat dan bahagia ya.. Sahabat, melanjutkan cerita jalan bareng sobat putih-abu kemarin, kali ini aku akan menceritakan pengalaman kami berkunjung ke salah satu pantai indah di daerah Gunungkidul.
Pantai Ngobaran. Apakah kalian pernah mendengar namanya? Atau bahkan pernah berkunjung ke pantai ini? Aku sendiri memang baru pertama kali berkunjung ke sini dan sebelumnya sempat mencari-cari info terkait Pantai Ngobaran ini.
Pantai Ngobaran Gunungkidul
Sekilas Tentang Pantai Ngobaran
Pantai Ngobaran adalah salah satu dari banyak pantai pesisir Selatan, tepatnya di Desa Kanigoro Kecamatan Saptosari Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta, sekitar 65 km dari Pusat Kota Yogyakarta.
Selain pemandangan alam pantai nan indah, hal yang membuat pantai ini terkenal adalah karena suasana mirip seperti pantai-pantai di Bali dengan adanya pura dan arca-arca yang menyebabkan pantai ini dikenal juga sebagai Pantai Bernuansa Bali di Yogja atau sering disebut sebagai Bali of Java.
Hai Sahabat Lalang Ungu, salam sehat dan bahagia ya.. Sahabat, pada tulisan kali ini dan beberapa tulisan yang akan datang aku akan menuliskan cerita pengalamanku bersama dengan sahabat-sahabat putih-abu ku saat reunian beberapa hari lalu.
Reuni bersama sahabat putih-abu selalu menyenangkan apalagi bila dikemas dengan acara healing tipis-tipis alias jalan-jalan. Nah, kali ini reuni + jalan-jalan kami bertujuan Jogja khususnya ke daerah Gunungkidul. Ada 3 lokasi wisata yang kita kunjungi yaitu Pantai Ngobaran, Pantai Gesing dan Obelix Sea View. Kebersamaan seharian yang seru dan sangat berkesan!
Kami berangkat dari Semarang sekitar pukul 6.30 WIB, meluncur menuju Jogjakarta melalui tol Semarang – Boyolali dan lanjut ke Jogja via Klaten, ngampiri Jeng Esti -sahabat kami yang berdomisili di Jogja- dengan titik temu di Piyungan, lalu bablas ke Gunungkidul.
Hai Sahabat Lalang Ungu, semoga senantiasa sehat dan bahagia menjelang pertengahan Bulan Mei ini ya… Di daerahku cuaca masih sering berubah-ubah, kadang panas tapi masih sering juga turun hujan. Mungkin begitu pula di daerahmu ya?
Sahabat, apakah kalian pernah dengar tentang media tanam pinus bark alias cacahan kulit pohon Pinus? Nah, sebenarnya aku sudah cukup lama membaca info tentang media tanam ini, namun baru beberapa minggu lalu berkesempatan mencobanya untuk tanaman anggrek di rumah kami.
Ragam Media Tanam Anggrek
Sebelum mencoba cacahan kulit pinus sebagai media tanam anggrek, kami menggunakan beberapa jenis media lain yang relatif mudah di dapat.
Memang ada banyak media tanam yang bisa digunakan untuk anggrek, yang jelas harus memenuhi syarat yaitu mampu menyediakan aerasi, drainase dan juga nutrisi yang cukup bagi tanaman anggrek kita.
Beberapa jenis media tanam yang dapat digunakan untuk anggrek a.l :
Sabut Kelapa
Arang
Pecahan Batu Bata Merah
Pakis
Moss/lumut spagnum
Serutan Kayu
Batu Lava
Kulit Pinus
Yang sudah pernah kami gunakan di rumah adalah sabut kelapa, arang, pecahan bata merah dan pakis. Dari ke-4 bahan ini di rumah kami yang paling cocok menurutku adalah arang kayu. Untuk media sabut kelapa pada pot cenderung sangat menyerap air sehingga akar bisa cepat busuk, terutama pada saat musim.hujan yang cukup panjang seperti beberapa bulan kemarin.
Pengalamanku Mencoba Media Tanam Kulit Pinus Cacah
Hai Sahabat Lalang Ungu, apa kabar? Semoga senantiasa sehat dan bahagia ya.. Sahabat, kali ini aku akan bercerita tentang sebuah peristiwa di kantor yang memicu pikiranku bernostalgia ke masa lalu…
Hari Jumat tanggal 2 Mei kemarin -bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional- di kantor aku menerima 2 orang rekan baru: CPNS hasil formasi penerimaan tahun 2024. Kebetulan keduanya perempuan dan akan ditempatkan pada bidang yang sama di OPD kami.
Keduanya mempunyai latar belakang pendidikan yang sesuai dengan formasi jabatan yang dilamar, namun tupoksi yang akan mereka laksanakan di tempat kami merupakan tugas baru yang belum pernah mereka lakukan di tempat kerja sebelumnya.
Berbincang dengan keduanya memicu nostalgia saat-saat awal pengabdianku dulu, lebih dari dua dasa warsa lalu. Ya, kami ‘berbeda zaman’ pada awal masa tugas kami, tapi aku yakin suasana hati ku saat itu sebelas dua belas lah dengan suasana hati mereka saat ini: ada rasa bahagia tentunya, bercampur dengan semangat, rasa ingin tahu dan juga sedikit was-was tentang apakah kami akan dapat melaksanakan tugas dengan baik?
Jika Darurat Sampah ditetapkan di daerah kalian, apa yang kalian lakukan?
Hai Sahabat Lalang Ungu, jumpa lagi kita di ruang Maya ini ya. Semoga sahabat semua senantiasa sehat dan bahagia.
Sahabat, bulan lalu -tepatnya beberapa pekan sebelum Lebaran- Pemerintah Kota kami menetapkan kondisi Darurat Sampah di kota kami. Hal ini terjadi karena ditutupnya TPA oleh Pemerintah Pusat (KLHK) karena kondisinya yang sudah tidak layak lagi dan juga pengelolaan TPA secara open dumping, tidak sesuai dengan peraturan/perundang-undangan yang berlaku.
Penutupan yang terkesan mendadak itu tentu saja menimbulkan gejolak di masyarakat dan lingkungan yang benar-benar tidak kondusif. Tumpukan-tumpukan sampah terlihat di banyak tempat sangat menggangu pemandangan dan juga menebarkan bau yang aduhai.. Sungguh sangat memprihatinkan!
Satu dari buanyaaak tumpukan sampah di area umum akibat penutupan TPA (Gbr: IG Official Batik TV)
Pemerintah kota telah berusaha keras mengatasi dengan memaksimalkan pengolahan sampah di TPS-TPS yang ada sambil gencar menggerakkan upaya pengelolaan sampah hingga di tingkat kelurahan, namun semua tak akan maksimal hasilnya bila masyarakat tidak ikut berperan serta secara aktif, bukan? Continue reading “Langkah-langkah Kecil Kami Untuk Mengurangi Sampah”
Dalam hidup, ada saat-saat yang tak terhindarkan; waktu yang terus berjalan, menghilangkan banyak hal. Namun, apa yang tersisa tidaklah sia-sia. Justru, ia semakin bermakna ketika kita mampu menatapnya dengan penuh kesadaran, belajar dari setiap pengalaman, dan menghargai setiap proses yang telah dilalui. (YTSB, 2025)
***
Hai Sahabat Lalang Ungu, apa kabar? Senang rasanya akhirnya bisa menyapa kembali sahabat di ruang Maya yang sempat terlantar beberapa pekan terakhir ini. Semoga sahabat semua senantiasa sehat dan bahagia ya…
Sahabat, kutipan di awal tulisan ini kuambil dari Sekapur Sirih Buku “Yang Tersisa Semakin Bermakna” yaitu sebuah buku antologi hasil Nulis Bersama (NuBar) yang kuikuti dengan beberapa kawan dan terbit di awal tahun ini. Alhamdulillah, nulis untuk buku lagi setelah bertahun lalu beberapa bukuku terbit
Nah, mari kita kenalan lebih lanjut dengan antologi satu ini ya…
Yang Tersisa Semakin Bermakna
Identitas Buku
Judul buku: Yang Tersisa Semakin Bermakna
Penulis: Lely Wahyuniar, dkk
Penerbit: Al Qalam Media Lestari – Pati Jawa Tengah
Hai Sahabat Lalang Ungu, apa kabar? Semoga senantiasa sehat dan bahagia ya.. Setelah beberapa pekan kemarin rumah maya ku ini nganggur, senang rasanya akhirnya bisa menyapa kembali para Sahabat Lalang Ungu.
Oh ya, sebelum bercerita lebih lanjut, terlebih dahulu aku akan mengucapkan Selamat Ulang Tahun untuk komunitas blogger Gandjel Rel yang pada 22 Februari 2025 ini genap berumur 10 tahun. Selamat Ultah Gandjel Rel, semoga panjang umur, semakin solid, sukses bersama dan senantiasa menebar manfaat tahun demi tahun. Aamiin.
Keseruan Bergabung di Komunitas Blogger Gandjel Rel Semarang
Tak terasa sudah cukup lama juga aku bergabung di Gandjel Rel. Mulai ikut meramaikan gelaran ultah Gandjel Rel yang kedua meski saat itu belum bisa hadir langsung, dan pertama kali hadir adalah di ultah ke-3 GR tahun 2018. Masih kuingat rasa senang dan keseruan acara saat itu.
GRes di Ultah ke-3 Gandjel Rel (Foto punya Dhe’Ujha)
Hai Sahabat Lalang Ungu, alhamdulillah kita dapat berjumpa lagi di Tahun 2025 ini. Bulan pertama sudah akan berlalu, namun aku baru menayangkan tulisan pertama di sini. Hehe..maafkan ya.. Karena satu dan lain hal baru bisa sekarang menghiasi kembali beranda rumah mayaku ini. Semoga, setelah ini akan lebih rajin lagi. Insya Allah 🙂
Sahabat, kali ini aku akan menuliskan tentang tanaman Wijaya Kusuma kami yang salah satunya beberapa minggu lalu membuat kami bahagia karena mekar perdananya.
Lho..bukannya Wijaya Kusuma nya sudah beberapa kali mekar?
Sahabat, sampai saat ini memang kami baru mempunyai 3 jenis tanaman Wijaya Kusuma yang mulai kami rawat dalam tahun-tahun yang berbeda. Nah, aku memang pernah menuliskan kebahagiaan kami saat pertama kali Sang Ratu Malam rawatan kami berhasil mekar perdana, yaitu di tahun 2022 melalui tulisan yang ini. Itu adalah tanaman Wijaya Kusuma kedua yang kami rawat.
3 Jenis Tanaman Wijaya Kusuma di Rumah Kami
Tanaman hias Wijaya Kusuma memang mempunyai arti tersendiri bagi keluarga kami. Bukan karena mitos bahwa tanaman ini adalah tanaman pembawa keberuntungan lho…lebih karena tanaman ini mengingatkan kami akan rumah masa kecil di Salatiga di mana almh Ibu menanam beberapa rumpun berdekatan dengan ditopang pagar bambu setinggi orang dewasa.
Tanaman itu tumbuh subur hingga menjadi sepetak dinding hijau cantik di pagi hari, dan akan semakin menarik ketika dihiasi berkuntum-kuntum bunganya saat mekar bersamaan di malam hari. Sungguh pemandangan indah yang selalu kami tunggu-tunggu waktu itu, dan menjadi kenangan indah hingga kini.
Kenangan indah itulah yang ingin kami ciptakan kembali, sehingga kami berusaha menanam tanaman hias ini juga di rumah kami sekarang. Dari hasil pencarian informasi di internet, ternyata ada banyak macam/jenis tanaman Wijaya Kusuma ini. Bukan hanya yang berbunga putih, Wijaya Kusuma hybrid pun ada banyak jenisnya dengan bermacam warna bunganya. Namun, sampai saat ini kami baru berhasil merawat 3 jenis Wijaya Kusuma (Wiku) yaitu:
1. Wijaya Kusuma Keris
Pertama kali merawat Wiku jenis ini kalau tidak salah tahun 2015-an, berawal dari rasa tertarik saat melihatnya di penjual bunga di kawasan Pagilaran. Hal yang paling menarik perhatianku waktu itu adalah bentuk daunnya yang unik: memanjang dengan lekukan-lekukan di kanan-kiri dari pangkal hingga ke ujungnya. Seperti bentuk keris -salah satu jenis senjata tajam khas daerah Jawa.
Tampilan Wiku Keris kami di Th 2021
Kata penjualnya waktu itu, bunganya cantik berwarna merah keunguan, berbeda dengan bunga Wijaya Kusuma yang biasa kulihat yaitu berbunga putih dan wangi.
Konon seperti ini bunga Wijaya Kusuma Keris (foto milik akun FB Dedi Ded Supriadi)
Hai Sahabat Lalang Ungu, apa kabar di hari-hari terakhir tahun 2024 ini? Semoga tetap sehat dan bahagia ya.. Alhamdulillah akhirnya aku bisa nulis lagi di sini sehingga rumah mayaku ini tak lagi suwung , hehe..
Sahabat, kali ini aku ingin menceritakan pengalaman kami staycation di liburan kemarin. Suatu liburan bersama yang baru sanggup kami lakukan lagi sejak kepergian almh Ibu sekitar 3 tahun lalu.
Ya, sejak kepergian beliau, kami memang belum sanggup liburan / jalan-jalan bareng sebagaimana yang biasa kami lakukan minimal setahun sekali seperti sebelumnya. Entah kenapa, rasanya malas pergi-pergi. Apalagi ke tempat-tempat yang sebelumnya banyak kenangan bersama beliau. Rasanya beraaaat banget..
Merencanakan Kumpul Keluarga di Akhir Tahun
Tapi tahun ini berbeda. Ada beberapa peristiwa yang membuatku menyadari bahwa umur manusia benar-benar rahasia Illahi. Tak ada yang tahu berapa lama waktu kita yang tersisa. Itu adalah fakta.
Memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya sambil menabung kenangan dalam kebersamaan keluarga adalah salah satu upaya yang menurutku tepat untuk menyikapi fakta itu.
Itu sebabnya, berbeda dengan 3 tahun terakhir, awal Desember tahun ini aku kembali mulai mencari-cari info tempat yang nyaman untuk staycation bersama keluarga besar, bertukar informasi sambil mencocokkan waktu melalui komunikasi di WAG keluarga, dll.
Alhamdulillah, meskipun gagal kumpul keluarga secara lengkap karena keterbatasan waktu dan juga prioritas-prioritas yang tak semua sama, akhirnya bisa juga terlaksana acara liburan bersama itu pada tanggal 25-26 Desember 2024 kemarin meski hanya diikuti sebagian keluarga Semarang dan Pekalongan.