Hanya sehari di Cirebon, bisa ke mana saja? Itulah pertanyaan di hatiku saat ada kesempatan ke Cirebon beberapa waktu lalu, namun hanya 1 hari. Sampai di Cirebon malam, dan harus sudah pulang kembali ke kota kami pada malam berikutnya. Nah, daripada hanya bertanya-tanya dalam hati, maka aku pun ‘melempar’ pertanyaan itu di salah satu WAG yang kuikuti.
Gayung bersambut, tanya berjawab. Ada banyak masukan dari teman-teman di grup itu dan sebagian besar menyarankan untuk mengunjungi istana-istana di Cirebon juga beberapa wisata alam. OK deh, setelah mendapat informasi tersebut aku pun kian mantab untuk mengunjungi Cirebon, meski hanya sehari saja. Nah, Sahabat Lalang Ungu, tulisan pertama ‘oleh-oleh’ dari perjalanan singkat kemarin ini adalah tempat-tempat yang berhasil kudatangi di Cirebon dalam waktu 1 hari saja.
Sahabat Lalang Ungu, tulisan berikut ini melanjutkan post sebelumnya tentang kunjungan kami ke Wisata Taman Anggrek Guci ya.. Masih tentang Wisata Bersama upaya menjaga kehangatan keluarga kami, kali ini akan kutuliskan serunya staycation di Guci Ashafana Wana Wisata Guci (WAGU) Tegal.
Langit mendung menemani perjalanan kami dari Taman Anggrek Guci ke penginapan yang telah kami pesan yaitu di Ashafana Wana Wisata Guci (WAGU). Kami meninggalkan lokasi Taman Anggrek sekitar jam 12an, masih 2 jam dari waktu chek in yang disepakati yaitu jam 14, sehingga rencana awal kami akan ke Pancuran 13 Guci dulu.
Namun di perjalanan rencana itu berubah, karena langit makin mendung bahkan mulai gerimis dan lalu lintas ke arah atas (Pancuran 13) amat sangat tersendat aliat maceeet. Adikku yang mengemudi menawarkan langsung ke arah WAGU (Wana Wisata Guci) saja, yang secara aklamasi disetujui bersama. Maka setelah bermacet-macet ria, di pertigaan sebelum pasar Guci belok ke kiri, menuju WAGU. Continue reading “Wisata Bersama, Upaya Menjaga Kehangatan Keluarga (2) : Guci Ashafana Wana Wisata Guci Tegal”
Hai, Sahabat Lalang Ungu…apa kabar? Semoga sehat dan bahagia selalu ya… Oya, Selamat Tahun Baru ya, teman… Semoga di Tahun 2020 ini kita semua sehat, sukses dan bahagia selalu. Aamiin… Nah teman, tulisan pertamaku di Tahun 2020 kali ini adalah cerita tentang pengalaman kami wisata bersama sebagai salah satu upaya menjaga kehangatan keluarga kami, dan tujuan kali ini adalah ke Guci Tegal.
Dari keluarga inti Bapak-Ibu dengan lima orang putera-puteri, saat ini berkembang menjadi lima belas jiwa dan berdomisili tersebar di empat kota dan masing-masing mempunyai kegiatan dan kesibukan yang berbeda-beda, sehingga agak sulit untuk kumpul bersama di suatu waktu. Bahkan pada momen dua Lebaran pun tidak selalu bisa komplit ketemu bareng. Itu sebabnya sejak beberapa tahun terakhir ini kami bersepakat untuk sama-sama meluangkan waktu dua hari di akhir tahun agar dapat berkumpul bersama. Akhir Desember memang sengaja kita pilih karena bertepatan dengan libur akademik dan juga cuti tahunan, hehe.. Momen kumpul bersama itulah yang kita gunakan untuk mempererat silaturahmi antara Orang tua-Anak; Nenek-Cucu; Kakak-Adik; juga antara Oom/Tante – Keponakan.
Setelah Malang, Dieng, Baturaden, wisata bersama ini terakhir kami selenggarakan di Pagilaran Batang pada momen tutup Tahun 2017. Iya, dua tahun lalu. Momen kebersamaan di akhir tahun lalu (2018) terpaksa skip karena bertepatan dengan jadwal Umrohku Desember-Januari lalu. Itu pula sebabnya, momen kebersamaan di akhir Tahun 2019 menjadi hal yang kami tunggu-tunggu. Sejak beberapa bulan sebelumnya rembugan menentukan tempat, memesan penginapan, dll. Alhamdulillah, akhirnya pada 24-25 Desember 2019 lalu, akhirnya kami bisa kumpul bersama di Guci Tegal.
Hari Ibu memang telah berlalu, tepatnya tanggal 22 Desember 2019, tepat sepekan yang lalu. Apakah kalian memperingatinya secara khusus, Sahabat Lalang Ungu? Ya, memang banyak cara kita untuk memperingati momen itu sebagai penghargaan atas jasa-jasa Ibu ataupun wanita pada umumnya ya.. Nah, demikian pula dengan kami yang ingin merajut kenangan bersama ibu kami tercinta di hari itu, salah satu nya adalah dengan mengajak beliau santai sejenak di Ndoro Glompong Kajen Pekalongan.
Apa itu Ndoro Glompong?
Saat ini sektor pariwisata memang sedang menggeliat, banyak bermunculan tempat wisata baru termasuk cafe & resto sebagai alternatif wisata kuliner, tidak hanya di kota-kota besar, namun termasuk di daerah-daerah, juga Pekalongan.
Ndoro Glompong adalah nama salah satu alternatif wisata baru di Pekalongan yang berkonsep menggabungkan antara wisata kuliner, petualangan dan olah raga sebagaimana tagline-nya ‘culinary, adventure and sport’. Di sini pengunjung dapat menikmati makan-minum di resto, bisa menginap juga indoor (guest house) maupun outdoor ( ngecamp di tenda) juga beberapa keg petualangan. Namun saat berkunjung kemarin, kami baru menikmati maksi di resto dengan konsep yang dekat dengan alam dan mengusung budaya lokal, mudah-mudahan lain kali bisa menikmati kegiatan lainnya di sini.
Berlokasi di daerah Kajen Kab Pekalongan, tepatnya di Ds Sadang, Linggoasri Kajen, sebelum Bumi Perkemahan dan lokasi outbound di tempat wisata Linggoasri yang telah lebih dahulu dikenal di Pekalongan. Dari Kota Pekalongan berjarak sekitar 30 KM dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.
Posisi Ndoro Glompong dari Kota Pekalongan
Sebelumnya kami melihat foto-foto cantik lokasi ini lalu-lalang di lini masa dan juga ada beberapa teman yang merekomendasikan tempat ini sehingga akhirnya Minggu 22 Desember 2019 lalu kami mengajak ibu untuk mlipir sejenak dari rumah, bersantai sambil makan siang di tempat ini.
Apa kabar, Sahabat Lalang Ungu… Semoga selalu sehat dan bahagia ya.. Kali ini aku akan tuliskan pengalamanku berkunjung ke KWT Anggrek Asri Kulonprogo. Kunjungan kami pada hari Kamis, 12 Desember 2019 lalu itu merupakan kunjungan dinas kami dalam rangka studi banding ke KWT Anggrek Asri yang merupakan Juara Nasional Lomba KRPL tk Nasional tahun 2018.
Tentang Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL)
Pengertian KRPL
Sebagaimana kita ketahui Kawasan Rumah Pangan Lestari(selanjutnya kita singkat sebagai KRPL) ini adalah salah satu program pemerintah yaitu upaya pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dengan berbasis kawasan. Artinya, pemanfaatan pekarangan ini tidak hanya dilakukan pada 1-2 rumah saja namun diharapkan merata pada suatu kawasan, misal gang, dusun, RT, dll..
Manfaat KRPL
Nah, dengan penerapan program KRPL di pemukiman-pemukiman ini, diharapkan masyarakat dapat mengambil manfaat, a.l : (1) Peningkatan pendapatan keluarga & masyarakat; (2) Mendukung diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal; (3) Ketahanan dan kemandirian gizi dan pangan keluarga; (4) Ramah lingkungan ; dan (5) Mendukung konservasi sumberdaya genetik lokal.
Manfaat Kegiatan KRPL (Sumber Gbr : Badan Ketahanan Pangan)
Jenis tanaman yang ada di KRPL
Ada beberapa jenis tanaman yang diharapkan ada di KRPL agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga, yaitu :
Tanaman Lumbung Keluarga, antara lain : singkong, ubi jalar dan umbi-umbian lainnya (kimpul, uwi, suweg, dll).
Tanaman sayuran, misalnya : terong, sawi, tomat, selada, dll.
Tanaman buah, misal : pisang, jambu, rambutan, mangga, sirsak, dll
Tanaman obat keluarga (TOGA), antara lain : jahe, kencur, kumis kucing, binahong, dll.
Tanaman hias, baik tanaman yang berbunga indah ataupun berdaun indah.
Dengan adanya tanaman-tanaman tersebut, diharapkan dapat mendukung pemenuhan kebutuhan keluarga, baik untuk konsumsi maupun penambah penghasilan keluarga.
Nah, sebagaimana daerah-daerah lain, di kota kami juga sudah digiatkan program KRPL ini, meskipun belum mendapatkan hasil yang sangat memuaskan. Nah, untuk dapat lebih maksimal dalam melakukan pendampingan dalam program ini maka kami melakukan studi banding ke kelompok-kelompok yang sudah berprestasi, salah satunya adalah KWT Anggrek Asri Kulonprogo ini.
Berkenalan dengan Tere di Joglosemarkerto. Jam tangan menunjukkan waktu pukul 17.15 ketika KA Joglosemarkerto tujuan Solo mulai beranjak meninggalkan Stasiun Purwokerto dengan tepat waktu. Alhamdulillah…inilah salah satu hal yang menjadikan KA sebagai salah satu alat transportasi favoritku sekarang : nyaman dan tepat waktu.
Kuatur posisi dudukku dan bersiap menikmati pemandangan sore dari jendela KA itu sebelum malam tiba dan aku tak akan lagi leluasa menikmati pemandangan di luar sana.
Salah satu pemandangan cantik dari balik jendela kereta
Lalu tiba-tiba kurasakan perutku bernyanyi. Aih..untung kursi sebelahku masih kosong, sehingga aku tak perlu takut nada keroncong itu terdengar penumpang lain..haha.. Ah, ada-ada saja perutku ini, belum lagi lewat Maghrib tapi kok sudah unjuk rasa padahal menu makan siang sebelumnya kurasa cukup mengganjal perut hingga sekitar j 8 sampai rumah, sehingga aku sengaja hanya membeli minuman saja di stasiun tadi. Rupanya aku harus membeli makan malam di kereta nih… Continue reading “Berkenalan dengan Tere di Joglosemarkerto”
Salam jumpa, Sahabat Lalang Ungu.. Sudah tahu kan ya, tentang GWK Cultural Park yang menjadi salah satu ikon wisata Pulau Dewata alias Pulau Bali? Nah, kali ini aku akan ceritakan pengalamanku saat lakukan kunjungan singkat ke GWK Cultural Park Bali.
Ketika banyak teman-teman menuliskan tentang serunya kunjungan mereka ke GWK yang kini semakin cantik, dalam hati aku berharap untuk bisa mengunjunginya kembali. Alhamdulillah, menjelang akhir pekan kemarin ndilalah aku mendapat tugas 2 hari dinas ke Bali. Tak pelak, kusisipkan rencana kunjungan ke GWK ini pada kedatanganku ke Bali kali ini, meski pada saat-saat akhir yaitu sebelum ke Bandara untuk pulang.. Continue reading “Kunjungan Singkat ke GWK Cultural Park Bali”
Salam jumpa, Sahabat Lalang Ungu.. Sudah pernah dengar tentang Embung Kledung? Nah, kali ini aku akan tuliskan pengalaman kami menghabiskan sepenggal sore di Embung Kledung, pada Jumat 11 Oktober 2019 yang lalu.
Salam jumpa, Sahabat Lalang Ungu.. Apa kabar? Semoga sehat dan bahagia selalu ya.. Kali ini aku akan ceritakan pengalamanku berkunjung ke Kampung Ragam Warna yang ternyata bukan kampung warna-warni biasa.
Mentari sedang sepenuh hati memancarkan sinarnya di Sabtu siang 26 Oktober yang baru lalu, ketika akhirnya kusampai di Kampung Ragam Warna, setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari rumahku di Kota Pekalongan. Alhamdulillah…
Nostalgia rasa dan suasana tempo doeloe di Kampung Jawa Pawone Simbah. Hai Sahabat Lalang Ungu, apa kabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya… Sahabat, apa yang tebersit dalam benak kalian saat mendengar / membaca kata ‘PAWONE SIMBAH’?
Khususnya bagi teman-teman dari daerah Jawa (Tengah / Timur) pasti sudah tak asing dengan kata PAWON yang artinya DAPUR ini, bukan? Nah, kalau kata ini dirangkai dengan kata SIMBAH yang merupakan sebutan buat seseorang yang sudah tua / orang-tua dari ayah/ibu kita, maka dua kata itu bisa memicu nuansa nostalgia.
Nostalgia akan kehangatan suasana dapur nenek yang kita alami di masa kecil, atau kerinduan akan masakan-masakan enak hasil olahan tangan trampil dan penuh kasih dari nenek kita, yang diolah di dapur jadul yang sarat cerita kebersamaan keluarga.
Nah, mungkin hal itulah yang ingin diangkat oleh pengelola sebuah tempat makan di daerah Batang, menciptakan branding tempat makan dengan menu tradisional lengkap dengan suasana jadul yang sekarang tampaknya sedang nge-trend. Berhasilkah? Hm, sebaiknya kuceritakan dulu kesanku saat berkunjung ke sana ya..