Lalang Ungu. Hai teman… Pa kabar nih di awal pekan ini? Tetap bahagia dong yaa… Mungkin karena hari Minggu kemarin acaranya menyenangkan ya? Kalau aku sih hari Minggu kemarin di rumah saja, setelah hari-hari Minggu sebelumnya ngider sana-sini.. Nah, kali ini aku akan menuliskan kegiatanku pada hari Minggu 22 April lalu, saat bersama teman-teman Blogger mengikuti kegiatan healthy sharing bersama Semarang Runners dan bread tasting di Basilia Cafe & Dine Semarang.
Pagi itu cuaca Semarang cerah. Tepat pukul 6 pagi aku sudah sampai di daerah Mugas, tepatnya di depan GOR Tri Lomba Juang yang menjadi meeting point bagi kita yang akan mengikuti Healthy Sharing bersama Semarang Runners. Ketika aku sampai, suasana di sekitar GOR sudah terlihat ramai, rupanya sedang ada acara PORWAKOS (Pekan Olah Raga Warga Kota Semarang) di sana. Banyak rombongan-rombongan berseragam warna-warni, namun belum kulihat teman-teman blogger di antara mereka. Ok lah.. aku pun memutuskan jalan-jalan dulu di sekitar GOR yang baru direnovasi itu.
Ah, seperti bernostalgia rasanya. Duluuu..saat masih berseragam putih-abu kami sering berkegiatan di GOR ini. Ya, maklum saja, SMA kami tepat berpunggungan dengan GOR ini dan beberapa teman tinggal di seberang GOR Tri Lomba Juang.. hehe.. Namun, sejak meninggalkan Kota Lumpia ini bertahun lalu, aku belum pernah lagi berkesempatan masuk ke GOR Tri Lomba Juang ini. Hanya sempat sekali berfoto-foto di depan gerbangnya dengan teman-teman SMA saat reuni tahun lalu, hehe… Mampir sejenak dalam perjalanan dari rumah keluarga Erna di Mugas ini -yang menjadi tempat kumpul kami- menuju SMANSA tempat reuni Akbar nya..
Masih pagi, tapi GOR Tri Lomba Juang Semarang sudah rameee….
Lalang Ungu. Hai, teman-teman… Jumpa lagi di awal bulan baru ya.. Alhamdulillah kita memasuki bulan ketiga di 2018, insya Allah tetap sehat dan bahagia yaa.. Aamiin…
Nah, kali ini aku mau melanjutkan cerita tentang jalan-jalan kami ke Desa Wisata Samiran Boyolali beberapa waktu lalu bersama rekan-rekan Blogger Deswita dan FK Deswita Jawa Tengah. Setelah sebelumnya merasakan nikmatnya ‘muncak tipis-tipis’ ke Gancik Hill Top dan serunya icip-icip jajanan khas di Pasar Tiban Duit Batok, maka jalan-jalan penutupannya adalah ke destinasi wisata yang bernama Alam Sutra.
Hari telah mulai beranjak siang ketika kami meninggalkan Joglo Pengilon -sekretariat Dewi Sambi di Desa Samiran- menuju lokasi Alam Sutra dengan menggunakan (lagi) ‘pajero’ alias mobil bak terbuka (panas njobo njero). Sebagian peserta telah siap sedia membawa payung (terutama mbak-mbak & buibu-nya..) atau minimal menggunakan topi untuk mengantisipasi panas mentari siang hari. Dan aku memilih menggunakan topi saja agar tidak ribet namun tetap terlindung dari panas..hehe..
Selamat Datang di Alam Sutra Samiran Boyolali
Sesampainya di Dukuh Pojok yang menjadi lokasi Alam Sutra, kami pun kembali dihadapkan pada pilihan antara jalan kaki atau naik ojek. Oya, kalau ngojek di Gancik Rp 10.000/org sekali jalan, maka di sini hanya separuhnya saja. Hm, berarti medannya nggak terlalu ekstrim seperti di Gancik kali, ya? begitu pemikiran kami waktu itu, sehingga kemudian kami pun memutuskan untuk berjalan kaki menuju gardu pandang.
Oya, sama seperti di bukit Gancik, obyek wisata Alam Sutra Boyolali ini juga menawarkan pengalaman soft treking dan pemandangan alam dari gardu-gardu pandang yang sekalian berfungsi sebagai spot pepotoan nan kekinian.. Setelah menetapkan pilihan kami pun mulai mengayunkan langkah menyusuri jalan setapak menuju lokasi gardu pandang Alam Sutra.
Pemandangan di Alam Sutra Samiran Boyolali
Dan ternyata, pilihan kami untuk berjalan kaki tidaklah salah. Sinar matahari -sekitar jam 11 waktu itu- di kawasan Dukuh Pojok Boyolali tidak terlalu menyiksa. Mungkin karena cukup banyak angin nan sejuk di daerah ini sehingga panas mentari tak begitu terasa dan kami pun tetap nyaman melangkah menyusuri trek yang tidak terlalu menanjak.
Pemandangan hamparan kebun sayur nan hijau segar berpadu dengan suasana langit yang cerah di Alam Sutra Boyolali
Dengan berjalan kaki, kami pun semakin leluasa menikmati pemandangan di kanan-kiri jalan setapak yang merupakan lahan pertanian penduduk. Hijaunya hamparan tanaman Wortel, Sawi, daun Adas dan Selada berkolaborasi dengan birunya langit berhiaskan awan seputih kapas sungguh merupakan vitamin mata yang menyehatkan jiwa! 😃
Berinteraksi dengan petani di Alam Sutra Boyolali
Oya, kita dapat pula berinteraksi dengan para petani yang sedang beraktivitas di kebunnya. Ada yang sedang mengolah tanah, menyiangi tanaman ada pula yang sedang panen. Eh, ada pula teman yang nempil membeli selada langsung dari petani di sana lho.. Yang ngobrol dengan petani untuk mengetahui keseharian mereka ada, dan tentunya ada pula yang tak melewatkan kesempatan untuk pepotoan demi konten blog / IG! *nunjukdirisendiri 😆 Semua itu boleh kok.. yang tidak boleh adalah merusak tanaman petani, baik itu sengaja maupun tidak sengaja.. catat ini ya..hehe..
Sekitar 20 menit kemudian kami pun sampai di lokasi gardu pandang Alam Sutera yang ditandai adanya loket pengunjung. Oya HTM di sini murah meriah kok, cukup Rp 5.000 saja per orangnya. Terdapat beberapa gardu pandang yang terbuat dari bambu. Ya, memang sekilas terlihat sederhana dan rapuh, namun jangan takut…, tentunya pengelola sudah memperhitungkan kekuatannya demi keselamatan pengunjung.. hehe
Gardu-gardu pandang di Alam Sutra Samiran Boyolali
Jika dibandingkan dengan kondisi gardu di Gancik Hill Top, memang penampilan gardu pandang di Alam Sutera terkesan lebih sederhana. Namun, jangan khawatir..pemandangan yang dapat kita nikmati dari atas sana sama indahnya kok 😃
Seseruan dengan Blogger Deswita di Alam Sutra Samiran Boyolali (Foto by Gus Wahid)
Pose-pose manis juga laah… (Foto by : Gus Wahid)
Setelah naik ke gardu, menikmati pemandangan sekitar yang menghijau sambil dibelai angin sepoi-sepoi nan sejuk, dan tak lupa berfoto-ria baik sendiri-sendiri atau bersama (ups..kalimat ini seperti iklan apa ya?? 🤔) maka kami pun mulai berkemas meninggalkan lokasi, turun kembali ke tempat parkir. Sekali lagi perjalanan pulang disejukkan dengan pemandangan hijau segar kebun sayur yang kami lewati…
Mengenal jenis-jenis sayuran di Alam Sutra Samiran Boyolali, a.l : Selada, Wortel, Sawi, Adas.
Hm, bagiku yang paling berkesan dari perjalanan ke Alam Sutera ini adalah nuansa hijau segar dari hamparan kebun sayur + pengalaman mengamati aktivitas petaninya. Mungkin pengelola bisa menambahkan sesi berinteraksi dengan petani dan mengenal jenis-jenis sayuran di kebun sebagai salah satu daya jual dari obyek wisata ini, selain tentunya pemandangan alam dan spot pepotoan yang instagramable sebagaimana obyek-obyek wisata kekinian. Pengalaman berkunjung ke kebun sayur bila dikemas dengan bagus dapat menjadi bagian yang menarik dari sebuah paket eduwisata, bukan?
Nah, itulah cerita jalan-jalan kami ke Alam Sutera di Dukuh Pojok Desa Samiran Boyolali, sekaligus penutup rangkaian tulisan catatan perjalanan bersama FK Deswita di Desa Wisata Samiran Boyolali ini. Oya, teman-teman juga dapat membaca tulisan teman-teman Blogger Deswita lainnya tentang kunjungan ke Alam Sutra ini, antara lain tulisan dari mas Wahid dan Mia.
Lalang Ungu. Hai teman…apa kabar? Tetap semangat, bukan? Ya, mesti tetap semangat lah yaa..meskipun bagi sebagian dari kita tanggal gajian masih beberapa hari lagi..hehe.. Apalagi ini di awal pekan..hasil nge-charge semangat di akhir pekan kemarin masih sangat terasa tentunya.. Oya, aku juga mau cerita tentang acara seru yang kuhadiri di akhir pekan lalu nih… Acara itu tak lain adalah perayaan Ulang Tahun ke-3 Gandjel Rel di Semarang.
Semarak Ultah ke-3 Gandjel Rel
Sejak diumumkan bahwa acara Ultah ke-3 komunitas blogger perempuan Semarang (dan sekitarnya) itu akan diselenggarakan tanggal 24 Pebruari 2018, aku sudah semangat untuk ikut. Ya, bagaimana tidak? Tanggal 24 itu kan hari Sabtu, jadi kemungkinan besar aku bisa hadir karena libur…setelah sebelum-sebelumnya ku sering sedih karena tak bisa ikut acara-acara GR yang diadakan di hari kerja. Maka aku pun semangat mendaftar dan bersiap ikut.. 😉 Continue reading “Semarak Ultah ke-3 Gandjel Rel”
Lalang Ungu. Hai kawan, apa kabar? Hujan sedang turun dengan derasnya saat ku sedang menulis ini, seperti kondisi beberapa hari belakangan ini.. Yah, namanya juga musim hujan ya -mungkin bahkan saat ini adalah puncaknya- jadi ya mari kita nikmati saja…jangan sampai hal ini mengurangi kadar bahagiamu, teman..
Saat musim hujan begini, memang agak sulit untuk kemana-mana, termasuk berwisata ya.. Meskipun hujan adalah anugerah, namun -bagiku- agak kurang nyaman saja untuk berwisata di musim hujan begini. Di samping repot karena barang bawaan jadi bertambah, tidak asyik juga rasanya mengeksplor alam di tengah hujan (maklum, kondisi badan emak-emak satu ini rentan terhadap hujan..hehe). Jadi, mari kita tunggu cuaca membaik dulu, sambil mempersiapkan perjalanan ke destinasi impian nantinya.
Nah, bicara tentang destinasi wisata impian, jadi ingat tema arisan Blogger Gandjel Rel saat ini, yaitu tema yang diajukan oleh duo mbak-mbak anggota Gandjel Rel penyuka traveling yang tak lain adalah Mara dan Erina. Ya, ‘tujuan wisata impian di Indonesia’ adalah tema pilihan dari mereka.
Hm, sebenarnya ini pertanyaan yang cukup sulit bagiku, karena memang baru sedikit tempat indah di Bumi Pertiwi yang sudah kudatangi, jadi masih buanyaaak destinasi wisata impianku di Bumi Persada ini.. 😉 Juga mengingat kesukaanku yang hampir sama antara ke pantai dan ke pegunungan, membuatku ingin mendatangi semua tempat-tempat wisata dengan pemandangan alam yang indah, baik itu di pantai maupun pegunungan, lebih OK lagi kalau suatu daerah punya pantai dan pegunungan yang indah. Ada nggak ya?? 🤔
Lalang Ungu. Hai, teman… Minggu pertama di 2018 sudah hampir berlalu, semoga teman-teman semuanya tetap dalam keadaan yang membahagiakan yaa…. Keseruan pergantian tahun mungkin telah berlalu dan rutinitas keseharian telah dimulai lagi, tapi kita semua tetap semangat, bukan?
Tahun 2017 memang baru saja berlalu, tentunya masih membekas di kenangan kita, hal-hal yang paling berkesan di tahun itu, bukan? Mungkin pencapaian-pencapaian dalam kehidupan pribadi ataupun keluarga, dalam karir, dalam studi, ataupun hal-hal lain. Atau bisa juga ada pengalaman pahit namun mengandung hikmah, sehingga tak boleh begitu saja kita lupakan agar dapat kita jadikan pelajaran.
Ya, ada baiknya menuliskan hal-hal tersebut sehingga menjadi catatan tersendiri bagi kita yang mengalami dan mungkin juga bisa menginspirasi bagi pembaca tulisan kita. Itu sebabnya, saat mendapatkan giliran menentukan tema arisan ke-19 Blogger Gandjel Rel, kami – aku dan Dek Nuzha– memilih tema ‘kaleidoskop / pengalaman berkesan di 2017’. Terima kasih teman-teman Blogger Gandjel Rel yang telah menuliskan pengalaman berkesannya di 2017…
Bagaimana dengan pengalaman berkesanku sendiri? Alhamdulillah… Cukup banyak pengalaman berkesan di 2017 kemarin, dan dalam kesempatan ini akan kutuliskan 3 di antaranya. Continue reading “3 Pengalaman Berkesanku di 2017”
Hai, temaaan…, apa kabar? Menjelang penghujung Bulan Desember ini, semoga teman-teman dan keluarga sehat-sehat selalu yaaa…
Oya, mungkin teman-teman juga sedang menikmati liburan ya, mengingat hari ini sudah tanggal 24 Desember dan sebagian besar anak sekolah sudah menerima rapor dan memasuki masa liburan sekolah.
Nah, berbincang tentang liburan, sudah adakah rencana liburan akhir tahun, teman-teman? Mestinya sih sudah ya, karena akhir tahun tinggal beberapa hari lagi dan perencanaan awal merupakan salah satu kunci keberhasilan liburan.
Etapi, kalau ternyata belum dapat lokasi tujuan liburan akhir tahun, aku punya informasi asyik lhooo… Cobain ke DEWI MANGROVESARI atau Desa Wisata Mangrove Pandansari Brebes, dijamin nggak akan nyesel deeh..
Sebagai gambaran, akan kuceritakan apa saja yang dapat kita lakukan saat berlibur ke Hutan Mangrove yang ada Dukuh Pandansari Desa Kaliwlingi Kec Brebes Kab Brebes Jawa Tengah itu.
Melakukan Tracking Hutan Mangrove
Menuju ke Desa Wisata Pandansari sekilas memang terlihat tak berbeda dengan desa-desa nelayan lainnya. Terdiri dari rumah-rumah penduduk dengan tambak-tambak di kanan-kiri jalan -yang tak terlalu lebar- dan ada perahu-perahu yang tertambat di beberapa bagian sungai.
Memasuki Dukuh Pandansari baru terasa bedanya. Ada Joglo Mangrove yang menjadi pusat edukasi dan ruang pembelajaran untuk memahami tentang ekosistem mangrove, dll. Ada pula Sanggar Seni tempat pertemuan ide-ide kreatif warga berupa karya seni, dan juga penampilan tradisi / budaya baik itu tarian, musik, seni lukis maupun teater.
Tak perlu takut nyasar untuk menuju Hutan Wisata Mangrove, karena ada papan-papan petunjuk arah menuju lokasi ini, dan penduduk yang ramah pun akan memberi petunjuk dengan senang hati bila ditanyai.
Memasuki lokasi Hutan Wisata Mangrove ada gerbang dengan loket tiket masuk di sebelah kanan, dan posko Desa Wisata di sebelah kirinya. Oya, untuk memasuki kawasan ini pengunjung dipungut biaya Rp. 15.000 (orang dewasa) dan Rp. 5.000 (anak-anak) di hari kerja dan Rp. 20.000 (dewasa) dan Rp. 10.000 (anak-anak) di hari libur.
Memasuki gerbang kita akan melewati tempat parkir, warung & tempat makan serta kios-kios penjual cendera mata maupun oleh-oleh khas Brebes, langsung menuju dermaga.
Inilah dermaga menuju lokasi susur mangrove Pandansari
Lalang Ungu. Teman, jika disebut kata ‘DIENG’ , kata-kata apa yang langsung muncul di benakmu? Kalau aku, ada 3 kata yang muncul. Dingin dan kabut. Itu dua kata pertama yang langsung terpikir olehku setiap kali mengingat Dieng. Ya, beberapa kali mengunjungi daerah wisata nan elok ini, selalu saja disambut dengan rintik hujan, hawa sejuk cenderung dingin…dan kabut -tipis ataupun tebal- yang menyapa…
Namun dua kata itu tak serta merta menepis kata lain yang tercipta di benakku mengenai Dieng : mempesona. Ya, meskipun dingin dan berkabut, Dieng selalu saja mempesonaku dan membuatku mau dan mau lagi untuk mengunjunginya.. Hm, jangan-jangan ada mantera pemanggil di antara kabut itu?? Haha…
Lalang Ungu. Salam jumpa, teman-teman… Tak terasa, Desember telah terlewati separuhnya ya.. Sebentar lagi akhir tahun akan kita jelang bersama. Oya, sebelum akhir tahun, ada tanggal-tanggal istimewa ya, antara lain Hari Ibu yang kita peringati tiap tanggal 22 Desember.
Nah, dalam rangka memperingati Hari Ibu ini, dua blogger keren anggota Gandjel Rel -Bu Guru Noorma dan Bu Guru Chela– melontarkan tema arisan ke-17 yaitu ‘Kenangan bersama Ibu’.
Lalang Ungu. Sabtu, 11 Nopember 2017 merupakan hari ke-2 kegiatan Famtrip Banjarnegara yang kuikuti bersama dengan rekan-rekan blogger, GenPI, pekerja media dan sosial media.
Kecamatan Purworejo Klampok dan Kecamatan Susukan menjadi tujuan kunjungan kami hari kedua. Di Kecamatan Purworejo Klampok kami langsung menuju ke sentra kerajinan keramik yang merupakan salah satu produk unggulan Banjarnegara.
Lalang Ungu. GURU dalam bahasa Jawa seringkali diartikan sebagai kependekan dari kalimat : DIGUGU lan DITIRU. Artinya seorang guru adalah orang yang bisa digugu (dijadikan panutan) dan ditiru (dijadikan contoh / teladan).
Nah, tentunya dalam hidup kita ada sosok-sosok yang kita jadikan panutan dan teladan dalam menjalani hidup keseharian kita, mungkin bahkan ada banyak sosok-sosok yang menginspirasi selama hidup kita ini.
Demikian pula halnya dalam hidupku. Yang kusebut guru dalam hidupku bukan hanya guru formal yang telah membimbingku sejak Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi, namun ada banyak sosok guru informal bagiku. Continue reading “Terima Kasih, Guru-guru Kehidupanku”