Sahabat Lalang Ungu, apakah kalian punya pengalaman dengan sesuatu yang dulunya nggak suka…eh lha kok sekarang jadi suka? Kalau aku, punya beberapa. Antara lain beberapa buah-buahan dan olahan makanan.
Buah Kedondong dan Salak adalah buah-buah yang dulu aku nggak suka tapi sekarang jadi doyan. Dulu aku menemukan banyak alasan untuk tidak menyukai kedua buah ini, antara lain rasanya (yang satu sepet satunya lagi asam), bentuk fisik buahnya (yang satu kulit nya tajam sering melukai jari, satunya lagi keras dan perlu perjuangan untuk bisa memakannya). Pokoknya ada saja alasannya. Haha .. Anehnya alasan-alasan itu tak berarti lagi saat sekarang aku suka makan keduanya! 😀
Nah selain kedua buah itu, ada lagi nih makanan yang seperti itu : dulu tak suka, eh sekarang nyari-nyari kalau nggak nemu. Nama makanan itu adalah….Bawang Goreng! Ada apa antara aku dan Bawang Goreng? Simak ceritanya ya ..
Hai Sahabat Lalang Ungu, apa kabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.. Oya sahabat, bila mendengar / membaca kata angkringan, apa yang terlintas di benakmu, teman?
Tempat makan murah meriah, malam hari, tempat nongkrong, gerobak, tenda dan bangku-bangku, sego kucing, Jogja, Solo, kopi jos, teh kampul, susu jahe, aneka gorengan, aneka sate-satean, penyelamat perut mahasiswa, hik, wedangan, suasana akrab. Nah, beberapa yang kusebutkan ini adalah yang terlintas di benakku ketika mendengar kata angkringan.
Asal-usul Angkringan
Awalnya kukira nama angkringan itu berasal dari kata ‘nangkring‘ yang merupakan salah satu cara duduk dengan menaikkan satu kaki di bangku, mengingat sebagian besar angkringan menyediakan tempat duduk untuk pembelinya berupa bangku-bangku panjang tanpa sandaran dan sering digambarkan pelanggan menaikkan kaki di bangku itu alias nangkring.
Ternyata setelah baca-baca, perkiraanku itu salah lho…hehe.. Konon, kata ‘angkringan’ itu berasal dari kata ‘angkring’ yaitu alat jualan makanan keliling berupa gerobak pikul. Perkembangan zaman kemudian merubah alat dagang ini dari gerobak pikul menjadi gerobak dorong dan cara berjualan pun tidak lagi berkeliling namun di suatu lokasi tertentu.
Pedagang keliling zaman dahulu, dengan angkringnya. (Foto dari web Orami)
Hai Sahabat Lalang Ungu, weekend ini sudah melipir ke mana saja? Memang paling asyik tuh menikmati akhir pekan bersama orang-orang tersayang sambil mencari suasana yang berbeda ya..
Seperti yang kami lakukan beberapa waktu lalu, menyengaja mencari tempat makan dengan suasana berbeda dari yang sehari-hari kami hadapi, meski tak harus jauh-jauh dari rumah.
Nah, pada tulisan kali ini aku akan berbagi pengalaman santap siang di 3 tempat yang memungkinkan kita menikmati makanan sekaligus menikmati alam. Salah satunya berlokasi di kota kami (Pekalongan) dan 2 yang lain di kota sebelah, yaitu Kab. Batang.
Alhamdulillah..sampai lagi di akhir pekan kita.. Apa kabar, Sahabat Lalang Ungu? Semoga selalu sehat dan bahagia ya..
Akhir pekan kali ini, aku gabut. Tak ada agenda ke luar rumah, siram-siram tanaman sebentar, bersih-bersih rumah sekadarnya, lalu lanjut klekaran alias berbaring-baring saja sambil main HP.
Eh, tapi kok bosen ya.. Hmm, tiba-tiba saja iseng buka-buka kulkas dan lemari dapur, cari-cari sesuatu yang bisa dimasak. Tumben amaat?? 🙂
Hasil pencarian di kulkas menemukan sosis, keju dan putih telur kukus. Sementara dari lemari dapur ada telur, makaroni kering, bumbu rendang instan dan santan instan. Ok deh..mari kita eksekusi, guys.. Prok prok prook..jadi apaaa?? *nada Pak Tarno
Menikmati 4 Kuliner Kenangan di Sidoarjo dan Kartosuro. Salam, Sahabat Lalang Ungu… Tak terasa sudah hampir pertengahan Bulan Desember, yang artinya Tahun 2021 akan segera berlalu. Semoga sahabat selalu sehat dan bahagia ya..
Silaturahmi Keluarga Sebagai Ganti Wisata Bersama
Akhir Desember biasanya merupakan salah satu waktu yang dinanti di keluarga kami, karena di libur akhir tahun hampir selalu kami agendakan wisata bersama. Namun, Desember tahun ini terasa berbeda. Kami kurang antusias merencanakan piknik bareng, karena ibu/Yangti-nya anak-anak tak lagi ada bersama kami.
Sebagai gantinya, kami bersilaturahmi ke keluarga Oom (adik alm Bapak) di Sidoarjo, beliau satu-satunya sesepuh keluarga kami yang masih sugeng saat ini, dan acara silaturahmi ke Keluarga Oom ini sekaligus untuk mewujudkan keinginan almh ibu untuk bersilaturahmi ke sana yang sempat beberapa kali tertunda karena pandemi.
Alhamdulillah perjalanan Pekalongan-Semarang-Sidoarjo PP berjalan dengan lancar dan relatif cepat. Dari Pekalongan Jumat siang, menjemput keluarga Semarang lalu habis ashar bablas ke Sidoarjo via tol dan sampai penginapan di Krian sekitar pukul 10 malam. Sedangkan saat pulang, start dari Sidoarjo sekitar jam 9 pagi, mampir makan siang dan silaturahmi keluarga di Kartosuro sebentar, lalu lanjut ke Semarang dan sampai di Pekalongan sekitar Maghrib. Rata-rata 5-6 jam perjalanan kami.
Sepanjang acara jalan bareng ini tentu saja diwarnai dengan banyak rindu dan kenangan akan alm & almh bapak-ibu dan juga kakak sulung kami. Di jalan, di penginapan apalagi saat di rumah Oom dan keluarga Kartosuro, ingatan ke almh ibu sangat kuat. Momen kebersamaan pertama kami tanpa almh ibu sungguh terasa sepi. Tapi kami tidak boleh larut dalam duka. Kami yakin, almh ibu pun tak ingin kami begitu..
Alhamdulillah…putra-putri Bp Soeranto bisa bersilaturahmi lagi dengan Oom Rudi, adik bungsu beliau…
Ah..cukup sudah bicara tentang duka dan rindu yaa.. Sahabat Lalang Ungu, kali ini aku akan cerita tentang kuliner yang kami nikmati kemarin ya.. Tentu saja selama Jumat-Sabtu itu kami tidak hanya menikmati 4 kuliner itu saja, tapi ke-4 kuliner yang akan kuceritakan berikut ini menyimpan banyak kenangan di keluarga kami. Continue reading “Menikmati 4 Kuliner Kenangan di Sidoarjo dan Kartosuro”
Hai Sahabat Lalang Ungu, apa kabar di akhir pekan kali ini? Semoga tetap sehat dan bahagia ya.. Eh, akhir pekan ini ke mana saja? Kalau aku baru pulang dari Semarang nih.. Alhamdulillah sempat reunian dengan salah satu sahabat lama, juga menikmati waktu yang menyenangkan bersama keluarga kakak di Semarang.
Kalau mendengar kata Semarang, apa nih yang terlintas di benak kalian?
Kulinernya…, atau udara puanaasnya? Haha..bercandaa.. Iya Semarang memang panasnya lagi mantab akhir-akhir ini ya, tapi tentunya kuliner Semarang lebih terkenang bukan?
Nah, bicara tentang kuliner Semarang memang beragam ya, baik itu kudapan maupun jenis masakan lainnya. Salah satu kudapan nyamleng di Semarang yaitu Tahu Pong, yang kemarin sempat kunikmati bersama sahabat lama yang sekarang berdomisili di Semarang.
Hai Sahabat Lalang Ungu.. 3 olahan Labu Madu selain kolak ini kutemukan resepnya di aplikasi resep masakan andalanku. 3 resep yang menjawab rasa penasaranku tentang olahan Labu Madu selain dibuat Kolak yang sudah sangat umum itu.
Selain Dibuat Kolak, Labu Madu Bisa Diolah Apa Lagi, Sih?
Awalnya pada tulisanku tentang Labu Madu yang kaya manfaat kemarin, ada salah satu komen yang membuatku penasaran yaitu yang menyebutkan bahwa di daerah Kak Raja labu kalau tidak dikolak ya disayur.. Nah lo..aku baru tahu labu manis enak disayur juga. Kalau dikolak sih sudah sering ya..
“Wah iyo yo..padahal terong karo sayuran panenan wingenane yo isih nang kulkas”
“Berarti frekwensi masakmu kudu luwih sering mbaa, hehehe..”
“Lha piyeee, sempate yo mung setu-minggu thok je..”
Bayam Brazil nya sudah gondrooong…
Itu petikan percakapan beberapa minggu lalu antara aku dan adikku. Adikku mengingatkan bahwa Bayam Brazil di halaman sudah terlalu lebat, waktunya panen, sementara aku ingat hasil panen beberapa hari sebelumnya saja masih anteng jadi penghuni kulkas gara-gara jadwal masuk dapurku yang hanya di akhir pekan saja. Continue reading “Dengan Yummy App Olahan Hasil Pemanfaatan Pekarangan Kami Makin Sedap”
“Ini lho mba, pisang yang dibeli kemarin. Masih sisa beberapa tapi sudah kelewat mateng begini..dibuang saja ya?”
“Eh jangan dibuang.. Itu masih bisa dimakan, sayang kan..”
“Kulitnya sudah mulai menghitam dan dagingnya lembek lho mbaa.. Gimana makannya, megangnya saja susah?”
“Kita olah saja yuuk..”
***
Hai Sahabat Lalang Ungu..apa kabar? Semoga senantiasa sehat dan berbahagia yaa.. Pernahkah teman-teman mengalami hal seperti kutipan percakapan di atas? Punya pisang yang penampilannya sudah tidak bagus lagi karena terlalu matang, tapi merasa sayang untuk membuangnya karena memang masih bisa dimakan?
Mau mandaran seafood? ke De’Pendopo Pekalongan saja!
Mau Mandaran Seafood? Ke De’ Pendopo Pekalongan Saja! Hai Sahabat Lalang Ungu, siapa di antara kalian yang suka seafood? Naah..pasti banyak yang angkat tangan nih. Tos dulu kalau begitu, menu olahan berbahan ikan, kerang, cumi, dll memang banyak penggemarnya termasuk aku. Dalam tulisanku kali ini, aku akan ceritakan pengalamanku menikmati menu seafood di salah satu resto Pekalongan yaitu De’Pendopo di International Batik Center Wiradesa Pekalongan, yang disajikan a la mandaran.
Tentang De’Pendopo IBC Pekalongan
Beberapa hari lalu, kebetulan aku harus bertemu dengan beberapa rekan dari Komunitas Blogger Pekalongan, nah kali ini kami memilih tempat di sebuah resto yang baru saja soft launching pertengahan bulan lalu. Sebenarnya resto yang berlokasi di kawasan International Batik Center (IBC) Wiradesa Pekalongan ini sudah lama ada, hanya rupanya baru-baru ini ada pergantian manajemen. Nah, kami penasaran nih ceritanya, pengen nyobain menu-menu di De’Pendopo yang ‘baru’ ini 😊
Teman-teman sudah pernah berkunjung ke IBC Pekalongan? Lokasinya persis di tepi jalan jalur Pantura Pekalongan tepatnya di Jl. A. Yani 573 Wiradesa Kab Pekalongan. Nah di bagian depan dari salah satu pusat perdagangan Batik Pekalongan ini, ada sebuah bangunan berbentuk Pendopo khas Jawa. Itulah bangunan yang digunakan untuk Resto De’Pendopo ini. Cukup luas dan semi terbuka, seperti layaknya bangunan Pendopo / aula khas Jawa pada umumnya.
Menuju De’Pendopo IBC Pekalongan
Ruangan resto dengan bangunan semi terbuka ini tampak luas, bersih dan nyaman dengan meja-kursi makan yang di tata berjarak, sementara lingkungan sekitarnya pun tampak tertata apik (mengundang jiwa-jiwa selfie, hahaha..) dan tempat parkir relatif luas juga.
Ruangan Resto De’Pendopo IBC Pekalongan
Perkiraan kami semula, menu yang tersaji di resto ini adalah menu tradisional / khas Jawa atau menu lokal Pekalongan, ternyata setelah melihat daftar menu yang tersaji, justru seafood merupakan ciri khas dari resto ini. Dan yang lebih menarik lagi, informasi dari pramusaji bahwa paket-paket menu laut yang ada akan disajikan a la mandaran. Wah asyik sekali, bukan?