Hai Sahabat Lalang Ungu, tahun 2023 tinggal 23 hari lagi, dan tahun baru segera akan kita jelang. Sudah buat resolusi? Hehe… Kalau aku sih belum..dan kali ini aku mau flash back hari-hariku di 2023 ini dulu deh, tahun yang kurasakan nano-nano alias paduan berbagai rasa, dalam hari-hari yang kulalui dengan berbagai aktivitas.
Aktivitas Kantor
Masih berada di instansi dan posisi yang sama selama sekitar 6 tahun terakhir ini, rutinitas kegiatan kedinasan pada tahun ini masih relatif sama. Meskipun sempat sekitar 3 bulan ada tambahan tanggung-jawab yang cukup membuat pusing, tapi secara keseluruhan tak ada yang berbeda. Bosan? Hm..nggak juga sih, karena alhamdulillah lingkungan kerja kurasakan nyaman (teman-teman kerja yang baik serta lingkungan kantor yang ‘hijau‘ menenangkan) dan juga sebagian tupoksiku bertemu dengan masyarakat, jadi ada saja dinamika kegiatan yang menjadikan tugas kantor tidak membosankan.
Hey there! If you’re heading to yoga and wondering what to wear, let me introduce you to Cosmolle’s cool activewear. It’s not just about looking good; it’s about feeling great and doing good for the planet at the same time. Let’s dive into why Cosmolle’s clothes are awesome for your yoga sessions.
The Green Threads:
Cosmolle’s commitment to sustainability is woven into the very fabric of their activewear. Picture this: garments crafted from eco-conscious materials that embrace your body like a gentle embrace. This isn’t just fashion; it’s a conscientious choice. Choosing Cosmolle means embracing yoga suits that aligns with your values, respecting the planet with every asana.
Yoga is about fluidity, and so is Cosmolle’s approach to comfort. Their activewear isn’t just clothing; it’s a second skin that moves with you. The seamless integration of comfort into every stitch ensures that your focus remains on the connection between breath and movement, free from any constrictions. It’s a revolution in yoga apparel, where comfort becomes a silent but empowering companion in your practice. Continue reading “What to Wear to Yoga – Cosmolle’s Sustainable Activewear”
Suara renyah Mayang tiba-tiba terdengar dari ruang tengah. Bundanya yang sedang di dapur mendengar, tapi sengaja tidak bereaksi. Tak berapa lama, kepala mungil melongok di pintu dapur.
“Bunda sedang sibuk ya?” tanyanya.
Perempuan paruh baya yang sedang memilah-milah sayuran dan bumbu dapur dan memasukkannya ke kotak-kotak terpisah, menggeleng sambil menatap putrinya. “Enggak, cuma menata belanjaan tadi. Ada apa sayang, kok teriak-teriak?”
“Maaf Bun, Mayang tadi lupa mengecilkan volume suara..hehe,” Mayang lalu masuk ke dapur dan menarik bangku mendekati ibunya, “apakah kita masih punya Kacang Hijau?”
“Hm..bunda lupa, masih ada atau tidak ya? Coba kamu lihat di lemari persediaan itu, Sayang..” jawab ibunya sambil menggerakkan dagu ke arah almari kayu di sudut dapur.
Mayang segera beranjak menuju almari yang dimaksud dan mencari-cari di kotak-kotak yang ada di dalamnya. Sejurus kemudian dia membalikkan badan sambil mengacungkan sebungkus kecil Kacang Hijau yang dicarinya. Continue reading “Wedang Kacang Hijau a la Bunda Mayang”
Tanggal pungkasan ing wulan iki, sesuk wis methuki wulan anyar : wulan pungkasan taun iki
Ora kerasa, telung atus telung puluh papat dina wis tak lakoni ing taun iki
Njuk apa sing wis tak asilke sing migunani kanggo liyan saklawase sewelas wulan iki?
Duh Gusti Pangeran Ingkang Maha Agung…dalem lingsem…
Matur sembah nuwun kagem sedaya kanikmatan ingkang sampun kaparingaken dalem
Ugi nyuwun gunging pangaksami amargi dalem dereng saged dados tiyang sae, ingkang tansah migunani kangge tiyang sanes kados sakmestinipun
Gusti Pepunden Dalem,
Mugi-mugi benjing lan dinten-dinten saklajengipun, dalem taksih dipun paringi kesempatan saged dados tiyang ingkang langkung sae ugi langkung manfaat kangge tiyang sanes. Aamiin.
Sebenarnya sudah cukup lama juga aku mengenal jenis anggrek yang satu ini. Perkenalan pertama saat berkunjung ke di wisata alam di daerah Tegal sekitar tahun 2019 lalu. Nah, di antara bunga-bunga anggrek yang sedang bermekaran di sana, aku jatuh cinta dengan Anggrek Vanda Tri Color yang konon merupakan salah satu anggrek spesies Gunung Slamet.
Ini dia penampakan bunga Vanda Tricolor yang membuatku jatuh cinta waktu itu:
Vanda Tricolor spesies Gn Slamet
Saking jatuh cintanya, akupun memberanikan diri mengadopsi satu baby Vanda itu. Sayangnya…umurnya di rumahku tidak bertahan lama. Hanya beberapa bulan saja… 😭 Continue reading “Jurnal Anggrek (4): Vanda Limbata”
Kanca Lalang Ungu, aja kaget ya maca tulisanku sing nganggo basa Jawa iki. Ora ana angin saka lor utawa kidul, kok ndadak aku kangen nulis nganggo basa Jawa.
Pas ndelok arsip tulisan Lalang Ungu iki, jebul pungkasan aku nulis nganggo basa Jawa ki pas wulan Maret 2017, nem taun kepungkur! Lhaaa..rak yo wis suwiiii nemen to..mula iki aku arep nyoba maneh nulis nganggo basa Jawa, sukur-sukur bisa tak biasaake maneh ra ketang mung sesasi sepisan nguri-uri basa tinggalane pinisepuh 🤭
Eh kanca-kanca, isih kulina ora karo istilah ‘Apa Tumon‘?
Iku lho..istilah sing biasane disebut wong Jawa yen pas nemoni kedadeyan kang marakke nggumun. Aku dewe luwih kulina karo istilah iku amarga sering maca Panjebar Semangat -majalah basa Jawa- lan ing majalah iku ana rubrik/bagiyansing jenenge “Apa Tumon” yaiku rubrik sing macak kiriman tulisan-tulisan cekak sing isine kedadeyan-kedadeyan lucu / konyol / aneh / ora tinemu nalar. Sakliyane tau ngirim crita cekak, aku yo nate ngirim tulisan ‘opo tumon’ sing isine cerita lucu. Seneeeng rasane yen pas tulisan kirimanku bisa kapacak ing majalah iku 😊
Hai Sahabat Lalang Ungu, apa kabar? Akhir pekan datang lagi nih..apa kegiatan kalian di akhir pekan kali ini? Untuk teman-teman yang hobi baca, kali ini aku akan menuliskan tentang sebuah buku menarik yang kubaca beberapa waktu lalu. Sebuah buku karya seorang sahabat, yang mempunyai judul unik dan mengundang rasa penasaran.
Lauk Daun
Lauk Daun by Hartari
Ya, itulah judul buku karya mbak Hartari seorang sahabat blogger dari Semarang. Judul yang unik, bukan? Psst, sempat terlintas tanya di benakku saat membaca judul buku itu, apakah ini buku tentang masakan atau tips kesehatan? Dan ternyata…. Continue reading “Lauk Daun : Beragam Kisah Dari Sebuah Kampung Di Masa Pandemi”
Hai Sahabat Lalang Ungu, pada jurnal anggrek kali ini aku akan kembali bercerita tentang anggrek, yaitu salah satu anggrek jenis dendrobium rawatan kami yang bernama D. Caesar Warawan.
Dendrobium Caesar Warawan
Oya, anggrek kami jenis ini adalah dua dari 12 seedling / bibit anggrek yang kami adopsi pada Desember 2021 lalu. Nah, salah satu kekurangan membeli anggrek ukuran seedling ini adalah, identitas tanaman belum tentu sesuai dengan nama/ID yang diberikan oleh penjual. Baca juga : Ceritaku 17 Bulan Merawat Seedling Dendrobium.
Nah, itu sebabnya identitas anggrek satu ini pun baru kami ketahui setelah mulai berbunga, yaitu sekitar 17 bulan sejak dalam rawatan kami. Setelah bunganya mekar, kupotret lalu foto bunganya ku unggah di FB grup pecinta anggrek dan alhamdulilah akhirnya dapat info dari teman-teman di sana bahwa ID dendrobium kami ini adalah Dendrobium Caesar Warawan Continue reading “Jurnal Anggrek (3): Dendrobium Caesar Warawan”
Sahabat Lalang Ungu, pernahkah kalian berada di sebuah lokasi wisata non religi namun merasa jadi lebih religius? Kalau aku sih sering, terutama di tempat-tempat wisata yang menguji nyali!
Nah, kali ini aku akan menceritakan salah satu pengalamanku saat di lokasi wisata yang membuatku merasa begitu, yaitu di Kemuning Sky Hills. Eh, itu bukan jembatan kaca yang kemarin beritanya viral karena kecelakaan lho yaa…
Beberapa Lokawisata Ngeri-ngeri Sedap yang Pernah Kukunjungi
Sebelum bercerita tentang pengalamanku mencoba wisata Jembatan Kaca di Kemuning itu, akan kuceritakan sedikit tentang tempat wisata yang pernah kukunjungi, yang menimbulkan rasa ngeri-ngeri sedap dan otomatis membuatku semakin mengingat dan menyebut Asma Allah selama di sana untuk mendapatkan perlindungan-NYA.
Perjalanan kami ke Curug Muncar Petungkriyono ini di tahun 2015, dan kondisi jalan utama di Lokawisata Petungkriyono di Kab Pekalongan waktu itu masih memprihatinkan. Dan yang paling bikin sport jantung adalah akses menuju lokasi Curug Muncul yang sempit, menanjak dengan kelokan-kelokan tajam. Mudah-mudahan sekarang kondisi sudah bagus, aman dan nyaman.
2. Gumuk Reco Sepakung
Tak hanya akses jalan ke salah satu lokawisata Kab Semarang ini yang bikin sport jantung, tapi wahana-wahana yang ditawarkan di sana untuk kita coba juga memacu adrenalin, a.l : Ayunan Langit dan Ondo Langit.
Nah kalau di Dieng menurutku kondisi akses wisata sudah jauh lebih bagus, mungkin karena ini adalah lokawisata yang sudah lama. Yang membuatku deg-deg ser dan langsung ndremimil doa-doa adalah saat di atas Batu Pandang Ratapan Angin (waktu itu) tak ada pengaman di sekitar lokasi berdiri sehingga harus sangat hati-hati. Bila terpeleset sedikit ya.. wasallam deh ..
4. Kemuning Sky Hills
Nah..yang terakhir ini akan kuceritakan lebih detil di tulisanku kali ini. Oya, kunjungan ke Kemuning Karanganyar ini sudah beberapa bulan lalu, tepatnya di Juni 2023.
Jembatan Kaca ikon terbaru di Kemuning Sky Hills Karanganyar
Hai Sahabat Lalang Ungu,mumpung baru lewat sehari, kuucapkan Selamat Hari Blogger yaa… Oya untuk teman-teman yang belum tahu, tanggal 27 Oktober diperingati sebagai Hari Blogger Nasional sejak tahun 2007 lalu. Seharian kemarin berita-berita peringatan Hari Blogger yang dilakukan oleh teman-teman Blogger se-Indonesia bersliweran di lini masaku, mungkin di lini masa kalian ramai juga ya..
Ah..jadi teringat kopdar pertamaku bertahun lalu, terjadi saat aku mengikuti Kopdar Blogger Nusantara (KBN) 2013 di Jogja. Pengalaman seru yang selalu ngangeni! Kopdar pertama dan alhamdulilah bukan kopdar terakhir, justru mengawali pertemuan-pertemuan berikutnya dengan teman-teman blogger. Sahabat-sahabat dunia Maya yang merambah ke alam nyata 🙂
Kenangan di KBN 2013 Jogjakarta.
Tiga belas tahun bukan waktu yang sebentar, tapi rasanya baru kemarin aku membangun rumah mayaku. Berawal dari Beranda Mechta di Blog Detik pada Januari 2010, lalu Lalang Ungu lahir di 2012 dengan menggunakan wordpress gratisan sebelum akhirnya menjadi Lalang Ungu yang baru sejak 2017 hingga sekarang.
Selanjutnya berkesempatan bergabung dengan komunitas blogger juga merupakan hal yang selalu kusyukuri. Blogger Gandjel Rel dan Blogger Pekalongan adalah dua dari beberapa komunitas yang kuikuti dan telah memberikan banyak warna di hari-hariku sebagai seorang blogger .
Tiga belas tahun menjadi blogger memang telah memberikan banyaaaak hal padaku, yang bernilai material maupun immaterial. Hobi yang tersalurkan sekaligus mendatangkan cuan, memang sangat menyenangkan bukan? 😁 Baca juga : Ngeblog, apa sih manfaatnya?
GRes & Bang Odi di Kopdar Ultah ke-8 Gandjel Rel (Foto : Istimewa)
Boleh dibilang, tiga belas tahun ini adalah saat-saat yang sangat berkesan buatku. Dan masih tetap bisa menulis hingga saat ini, sungguh suatu kondisi yang selalu kusyukuri karena buatku pribadi itu bukanlah hal yang sangat mudah. Ibarat perjalanan, ini bukanlah jalan lurus dan datar saja, melainkan jalan berkelok dan naik-turun.
Kurasa, justru karena bukan merupakan perjalanan bebas hambatan itulah sebabnya aku masih menikmati perjalanan ngeblogku sejauh ini. Tak membosankan dan ada banyak tantangan!
Tiap tanggal 27 Oktober tiba, pertanyaan yang sama menghampiriku : masih pantaskah aku menyebut diri sebagai blogger?
Ada banyak perenungan memang sebelum aku memberikan jawabannya. Makin ke sini, rasanya makin lama waktu merenungku sebelum aku siap memberikan jawaban. Namun alhamdulilah sampai saat ini aku masih bisa menjawab: ya, aku masih seorang blogger. Rumah mayaku masih aktif update minimal seminggu sekali.